LOMBOK TIMUR – Dalam perhelatan Sepakbola bergengsi Piala Soeratin Cup U-17 NTB yang dilangsungkan di GOR Lalu Muslihin (Porda) Selong, Kabupaten Lombok Timur, Sabtu, 23 Agustus 2025. Sorotan kamera wartawan seakan tidak pernah luput pada salah seorang pemain Perselotim (Persatuan Sepakbola Lombok Timur) yang selalu merepotkan pertahanan musuh atas kepiawaiannya dalam memainkan si kulit bundar.
Dialah Muhamad Tifatul Adrian (17) remaja hitam manis asal Labuhan Haji, penampilannya dalam setiap pertandingan selalu memukau. Permainannya yang tenang namun agresif menjadikan dirinya selalu diperhitungkan oleh pihak lawan. Tak heran, jika para supporter menjadikannya idola baru dunia sepak bola di bumi patuh karya. Tidak terkecuali, Persela (Persatuan Sepak Bola Labuhan Haji), dan Persila Soccer Academy (PSA) Klub, dan tidak bisa dilupakan Coach Haikal Al Amudy yang membesarkan namanya menjadi pemain profesional.

Pada laga final Piala Soeratin Cup U-17, putra dari pasangan Darmo Jamaludin dan Nurveti, telah menjelma sebagai magnet tersendiri bagi publik sepak bola Lombok Timur. Ia pun, membuktikan skillnya dengan mencetak 1 gol di gawang PSKT sekaligus mengubur mimpi Tim andalan Tana Samawa, dalam drama adu finalti dengan skor 5 – 3 yang mengantarkan Perselotim menjadi Jawara meraih tropi piala bergengsi Soeratin Cup U-17 NTB 2025.
Dijumpai para awak media usai laga, pria kelahiran 4 Desember 2008 yang akrab disapa ‘Adek Adrian’ dengan perlahan mengatakan, ini adalah persembahan ku bersama Tim untuk Lombok Timur, sembari meneteskan air mata mengangkat tropi kemenangan di podium utama, disambut riuh gempita sorak sorai supporter bola.
“Tropi ini saya persembahkan untuk orang tua tercinta, Perselotim dan Askab PSSI Kabupaten Lombok Timur, para coach dan official, Pemdes Labuhan Haji, yang tidak pernah saya lupakan klub Persela dan tanah kelahiran ku Labuhan Haji,” ucapnya meneteskan airmata haru dengan dekapan hangat paman dan sang ayah.
Dalam permainan sepakbola, sambung remaja asal pesisir Labuhan Haji itu, bukan berbicara siapa yang hebat namun yang paling penting adalah kekompakan. “Kemampuan saya tidak berarti apa apa tanpa tim yang hebat,” kata pemain dengan nomer punggung delapan tersebut.

Piala Soeratin ini, sambung remaja yang bercita cita menjadi pemain terkenal itu, bukankah tujuan akhir dari kompetisi sepakbola. Disampaikannya, bulan depan pada ajang Soeratin Cup Nasional, yang digelar di Provinsi Jawa Tengah, tantangan besar menanti. Bukan hanya skill, namun mental, kekompakan, do’a dan dukungan masyarakat adalah spirit pamungkas baginya.
“Kehadiran di lapangan bukan hanya sekedar teknik dan strategi. Namun, harapan dan doa semua masyarakat adalah suatu kebanggaan. Do’akan kami untuk mengukir sejarah dan mengharumkan Lombok Timur tercinta,” ucapnya sembari mata berkaca kaca.






