LOMBOK TIMUR – Kematian pendaki Juliana Marins (27), menyisakan duka mendalam bagi keluarga. Pendakian Juliana Marins di Gunung Rinjani merupakan pendakian terakhirnya. Perempuan malang berkebangsaan Brazil itu menjemput maut di Lereng Gunung Rinjani. Kematiannya, menambah catatan panjang korban tewas di lereng Gunung Rinjani Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).
Profile Singkat Juliana Marins
Mendengar nama Juliana Marins, yang viral di jagat dunia maya akhir akhir ini, Juliana Marins lahir pada 24 Agustus 1998, di daerah Niteroi, Kota Rio De Janeiro Brazil. Ia berprofesi di bidang kehumasan jurusan Periklanan dan Propaganda dari Universitas Federal Rio de Janeiro (UFRJ) Brazil. Selain itu, ia juga sering tampil sebagai penari tiang atau pole dance.
Kisah Pendakian Juliana Marins
Sejak memulai pendakian menuju puncak, Juliana Marins bersama lima pendaki lainnya dan para pemandu. Namun, saat pemandu kembali ke lokasi peristirahatan ia sudah tidak berada di lokasi.
Setelah berkoordinasi dengan petugas TNGR dan Tim SAR, perempuan malang itu terdeteksi jatuh di tebing kedalaman 600 meter dari permukaan laut (mdpl) pada senin (23/6/2025). Berdasarkan keterangan Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Mohammad Syafii, bahwa evakuasi korban telah dituntaskan pada Rabu (25/6/2025).
Disampaikannya, jenazah korban berhasil diangkat dari kedalaman 600 meter sekitar pukul 13.50 wita melalui jalur darat dengan proses sistem lifting (korban diangkat ke atas).
Lama Proses Evakuasi Terkendala Medan dan Cuaca
Perempuan adalah Brazil itu jatuh ke jurang sedalam ratusan meter, sekitar pukul 06.30 wita Sabtu, (21/6/2025) lokasinya ke arah Danau Segara Anak, tepatnya di Cemara Nunggal yang diapit jurang menuju puncak Rinjani.
Salah satu pendaki profesional, Ang Asep Sherpa kepada awak media menyampaikan, lamanya proses evakuasi disebabkan beberapa faktor diantaranya: minimnya sarana prasarana seperti alat-alat mountaineering yang berfungi menembus medan serta cuaca apapun. Terlebih lagi, pasokan oksigen yang tipis disekitar lereng Rinjani menjadi kendala serius.
“Meskipun tim penyelamat mengambil alat itu ke bawah pasti butuh waktu, belum lagi tali yang hanya panjangnya 200 meter. Bahkan, sebagian tali diambil dari Mataram,” bebernya.
Berdasarkan keterangan Direktur Operasi Basarnas, Brigjen TNI Edy Prakoso, M.M., yang hadir memantau langsung lokasi evakuasi. Basarnas telah mengerahkan helikopter milik PT. Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) bersama kru yang dipimpin Hudi Purnomo bersama Siswanto dan Alfaozan. Namun, karena faktor cuaca ekstrem memaksa mereka untuk kembali.
Saat itu, Tim SAR gabungan meliputi unsur TNGR, Basarnas, TNI/Polri, EMHC, dan relawan mengambil langkah evakuasi manual ke lokasi korban yang berada sekitar 950 meter dari titik jatuh.
Akhirnya, proses evakuasi korban menggunakan rute Pelawangan menuju Sembalun berjarak sekitar 10 km dengan waktu tempuh sekitar enam jam. Umumnya, rute turun gunung ini ditempuh pendaki antara 4-7 jam. Hal itu ditentukan oleh kemampuan fisik dan situasi medan. Juliana kemudian ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa oleh tim gabungan pada Selasa (24/6/2025) di kedalaman 600 meter menuju Lost Know Position (LKP).
Dikutip dari keterangan Balai Taman Nasional Gunung Rinjani, melalui akun resminya, proses evakuasi turis asal Brasil, Juliana Marins, berlangsung intensif dan berhasil dituntaskan pada (25/6/2025). Jasad korban tiba di Resort Sembalun, kemudian dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Nusa Tenggara Barat.
Berdasarkan permintaan keluarga, Juliana Marins diautopsi di RSUD Bali Mandara, sejak Kamis 26 Juni hingga hari ini, Senin 30 Juni 2025, dan akan diterbangkan malam ini ke negara asalnya Brazil.
Sebelum bertandang ke Nusantara, sejumlah wilayah di Asia Tenggara pernah ia taklukkan, diantaranya: Filipina, Thailand, dan Vietnam. Namun sayang, lereng Gunung Rinjani yang terjal dan berbatu menjadi saksi bisu kematian perempuan asal negeri Samba tersebut.
Panorama keindahan Gunung Rinjani di kawasan cemara nunggal, adalah pendakian terakhir Juliana Marins yang menutup riwayat petualangannya selama lamanya.






