LOMBOK TIMUR — Kepedulian tidak mengenal jarak; ketika saudara sedang tertimpa musibah, tangan yang terulur menjadi tanda bahwa mereka tidak menghadapi kesulitan seorang diri.
Semangat itulah yang kembali digerakkan Majelis Taklim Darunnajah Al-Irsyadi Mamben, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), melalui aksi penggalangan dana kemanusiaan untuk membantu masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terdampak gempa bumi.
Hingga 23 September 2026, dana yang telah dihimpun dalam aksi kemanusiaan tersebut mencapai Rp41.386.500. Penggalangan bantuan tersebut akan kembali dilaksanakan pada 27 September hingga 1 Oktober 2026 di sejumlah lokasi di Lombok Timur.
Pengumpulan donasi dijadwalkan berakhir pada 2 Oktober 2026 pukul 15.00 WITA. Sejumlah titik yang menjadi lokasi penggalangan dana antara lain Pasar Aikmel, Pertigaan Mamben Daya, Pasar Paok Motong, Mamben Baru dan Bandok, Pasar Selong, serta Wanasaba.
Gerakan kemanusiaan tersebut bukan kali pertama dilakukan oleh Majelis Taklim Darunnajah Al-Irsyadi. Sebelumnya, lembaga tersebut juga menggalang bantuan bagi warga NTT yang terdampak bencana gempa.
Ketua Aksi Kemanusiaan Majelis Taklim Darunnajah Al-Irsyadi, Ust. Ahmad Asdaruddin, mengatakan penggalangan dana tersebut merupakan bentuk ikhtiar bersama untuk membantu masyarakat yang sedang menghadapi dampak bencana.
“Ini adalah ikhtiar bersama untuk meringankan beban saudara kita yang terdampak gempa di NTT,” kata Ahmad.
Bagi panitia, capaian donasi sebesar Rp41.386.500 bukan sekadar angka yang tercatat dalam laporan pengumpulan dana. Jumlah tersebut mencerminkan kepedulian masyarakat Lombok Timur yang memilih berbagi ketika masyarakat di daerah lain membutuhkan dukungan.
Melalui aksi lanjutan tersebut, panitia mengajak masyarakat untuk ikut berpartisipasi sesuai kemampuan. Dukungan dapat diberikan melalui penggalangan dana yang berlangsung di sejumlah titik maupun melalui kanal donasi yang telah disediakan panitia.
Gerakan tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga semangat gotong royong di tengah masyarakat. Dari Mamben, kepedulian bergerak menuju NTT dengan harapan bantuan yang terkumpul dapat memberikan manfaat bagi warga yang masih menghadapi masa sulit akibat bencana.
Aksi kemanusiaan itu sebagai bukti bahwa solidaritas dapat tumbuh dari tempat tempat sederhana. Dari pasar, persimpangan jalan, hingga ruang ruang komunitas, kepedulian dapat berubah menjadi bantuan nyata ketika masyarakat memilih untuk bergerak bersama.
Hakikatnya, nilai sebuah kepedulian bukan hanya diukur dari besarnya bantuan, melainkan dari ketulusan meringankan beban orang lain yang membutuhkan pertolongan.






