MATARAM, – Barang siapa meringankan kesusahan seorang mukmin di dunia, niscaya Allah akan meringankan kesusahannya di akhirat. Sesungguhnya, sebaik baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lain.
Dari kesadaran itulah, Ikatan Mahasiswa Magister Kenotariatan (IMMK) Universitas Mataram (UNRAM) memilih tidak tinggal diam untuk menggelar aksi kemanusiaan untuk korban bencana alam di wilayah Sumatera dan Aceh.
Dari penggalangan dana tersebut, kini telah terhimpun donasi sebesar Rp6,5 juta yang kemudian disalurkan melalui Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) sebagai ikhtiar untuk menyapa luka para korban bencana.

Ketua IMMK UNRAM, Mahrun, S.HI., M.E., mengatakan, donasi tersebut bukan sekadar angka yang tertera dalam laporan, melainkan titipan rasa kemanusiaan yang lahir dari kesadaran kolektif para mahasiswa. Di balik setiap rupiah, tersimpan doa, harap, dan kepekaan terhadap sesaam yang dilanda musibah.
“Kami menyadari, apa yang kami berikan mungkin tak sebanding dengan besarnya kehilangan yang dialami saudara-saudara kita. Namun kami berharap, donasi ini dapat menjadi penopang bagi mereka yang sedang berusaha bangkit dari musibah,” ujar Mahrun kepada media suara nurani, Rabu (7/1/2026).
Lebih dari itu, ia menuturkan bahwa aksi ini merupakan panggilan moral, sebuah upaya merawat rasa kemanusiaan agar tidak terkikis oleh rutinitas akademik semata. Kepedulian pada sesama, khususnya, para kaum intelektual harus terus dirawat agar tetap menjadi denyut dalam kehidupan sosial.
“Kami berharap langkah ini dapat menggerakkan hati banyak pihak. Baik mahasiswa, relawan, hingga seluruh elemen masyarakat untuk memberi atensi dan dukungan bagi para korban bencana. Sebab, ketika manusia sedang diuji, ada dua kemungkinan apakah berpaling atau saling menguatkan dengan empati melalui aksi kemanusiaan,” ucap pria Magister Ekonomi jebolan Universitas Mataram tersebut.
Penggalangan donasi kemanusiaan dari mahasiswa IMMK dan luar IMMK menjadi penanda bahwa, harapan tidak pernah padam selama ada niat untuk mendengar ratapan mereka yang membutuhkan.
Dari ruang akademik yang jauh dari lokasi bencana, lahir sebuah kesadaran sederhana namun filosofis: bahwa menjadi manusia seutuhnya bukan diukur dari kecakapan maupun kemampuan intelektual semata. Bukan pula diukur dari gelar akademik yang disandang, melainkan dari seberapa besar manfaat yang ditebarkan untuk meringankan beban sesama.
Aksi kemanusiaan yang digalang oleh para kaum intelektual tersebut menjadi penanda bahwa, kaum intelektual mampu memberikan pengabdian nyata pada masyarakat dalam menegakkan nilai nilai kemanusiaan.






