LOMBOK TIMUR – Semilir sang bayu berhembus diantara terik mentari pantai selatan, mendekap dingin bocah tak berbaju tinggal kulit pembalut tulang yang diderita sejak dalam kandungan. Kerasnya kehidupan, seakan tak perduli dengan hidupnya yang malang.
Lengkap sudah penderitaan bocah nestapa M.Yusril Ihsan, Bocah 12 tahun, penderita cacat tulang belakang, asal Dusun Ujung Baru, Desa Seriwe, Kecamatan Jerowaru Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).
Saat dikunjungi Media Suara Nurani pada, Senin (9/6/2025), di kediaman Nurhaili, yang tiada lain adalah Ibunda dari bocah stunting Yusril, menceritakan kisah pilu merawat anak semata wayangnya ditengah keterpurukan dan himpitan ekonomi.
Nurhaili menuturkan, 4 tahun lamanya meninggalkan putranya untuk mengais rejeki di negeri rantauan, ditengah keterpurukan, akhirnya menitipkan anak satu satunya pada sang kakek Mahrep. Semua itu dilakukannya, semata mata untuk menambah biaya pengobatan sang bocah malang serta menafkahi orang tuanya di usia yang semakin senja.
Menurutnya, menjadi pahlawan devisa adalah jalan satu satunya untuk menabung pundi pundi rupiah. Meskipun tidak sesuai dengan harapan, paling tidak bisa membiayai pengobatan dan untuk bertahan hidup di tengah himpitan ekonomi yang semakin terpuruk.
“Anak saya telah menjadi yatim pada usia 5 bulan, tidak pernah melihat seperti apa raut wajah sang ayah. Ditinggal mati oleh sang suami tercinta (Wahyu ayah Yusril) dengan cacat mental dan cacat tulang belakang serta gizi buruk (stunting) yang diderita Yusril sejak kecil,” ucapnya sembari menyeka peluh sang buah hati.
Kendati demikian, sedikitpun dia tidak pernah menyerah terhadap getirnya kehidupan. Karena ia percaya, Tuhan selalu memberikan jalan bagi hamba yang mau berusaha. Ia pun meyakini Tuhan tidak akan memberikan ujian pada hambanya melainkan sesuai dengan kemampuan nya.
Untuk mencukupi kebutuhan sehari hari, berdagang sayur bakulan bahkan terkadang menjadi pembantu rumah tangga menurutnya adalah pilihan, selama pekerjaan itu halal.

Jangankan untuk membiayai pengobatan yang serba mahal, untuk makan sehari hari dan kebutuhan popok buah hati kesayangannya, ia harus banting tulang berdagang sayur bakulan melewati gersang nya daerah selatan dari pagi hingga petang.
Saat ini, dibenaknya hanya satu bisa memenuhi kebutuhan keluarga dan mencari jalan keluar untuk mengobati penyakit yang diderita anak semata wayangnya itu.
“Tiang (saya bahasa Sasak) berharap, para dermawan khususnya Pemda Lombok Timur, bisa melihat gubuk derita kami dan mendengar ratapan pilu anak kami. Dengan harapan, bisa meringankan biayai perawatan dan pembelian kursi roda untuk anak yatim ini,” ucapnya sembari menyeka air matanya.






