LOMBOK TENGAH — Sebaik apa pun sebuah program, nilainya akan kehilangan makna ketika keselamatan mereka yang menerima manfaat justru terabaikan.
Pesan moral tersebut seakan merepresentasikan ratusan siswa penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Lombok Tengah yang diduga mengalami keracunan massal setelah menyantap makanan yang disalurkan salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Hal itu sontak mengundang empati dari Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Makan Bergizi Gratis (APPMBGI) DPD I NTB.
Saat kunjungan tersebut, sejumlah wali murid membeberkan kronologi kejadian, diantaranya: Muksin, yang merupakan wali dari Azkiya Hafizatul Quran, 10 tahun, siswi kelas IV SDN Beber, Desa Beber, Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah. Ia membeberkan saat putrinya pertama kali dibawa ke Puskesmas Pringgarata sekitar pukul 09.30 Wita.
Orang tua dari Azkiya, mengaku menyaksikan langsung kondisi para korban ketika berada di Puskesmas Pringgarata. Menurutnya, sekitar 181 korban telah mendapatkan penanganan di fasilitas kesehatan tersebut, salah satu diantaranya adalah seorang guru dari SDN 1 Beber.
Lebih lanjut kata Muksin, setelah mendapat pemeriksaan medis, kondisi putrinya bersama korban lainnya dinyatakan membaik sehingga sekitar pukul 14.00 Wita diperbolehkan pulang.
Namun, kepulangan tersebut ternyata belum menjadi akhir dari persoalan. Sesampainya di rumah, kondisi Azkiya justru kembali memburuk. Muksin akhirnya membawa putrinya bersama dua korban lainnya ke puskesmas untuk memperoleh penanganan lanjutan. Sekitar pukul 19.00 Wita, Azkiya kembali dibawa ke Puskesmas Pringgarata.
Situasi tersebut membuat kekhawatiran para orang tua semakin besar. Di tengah kepanikan, aparat kepolisian disebut telah mengamankan kepala SPPG guna mencegah kemungkinan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.
Bagi Muksin, persoalan tersebut tidak semestinya berhenti pada penanganan korban. Ia berharap Badan Gizi Nasional (BGN) memberikan perhatian serius terhadap kasus keracunan massal tersebut dan memastikan adanya evaluasi serta tindakan tegas apabila ditemukan pelanggaran.
“BGN harus memberikan perhatian serius. Jika memang ada kesalahan, harus ada evaluasi dan efek jera agar kejadian seperti ini tidak terus berulang,” ujar Muksin.
Ia juga menyoroti pernyataan yang menyebut keracunan sebagai sesuatu yang biasa. Bagi orang tua korban, ungkapan semacam itu justru terasa menyakitkan karena yang dipertaruhkan bukan sekadar makanan yang tidak habis dimakan, melainkan kesehatan anak-anak.
Menurutnya, orang tua tentu menginginkan program MBG berjalan dengan baik. Namun, harapan tersebut harus berjalan beriringan dengan jaminan keamanan pangan dan pengawasan yang ketat.
Kisah serupa disampaikan Inak Asmah, wali Aqila, siswi kelas IV SDN Beber. Ia menjelaskan bahwa putrinya bersama sejumlah siswa lainnya dibawa ke puskesmas setelah mengalami keluhan kesehatan.
Setelah sempat diperbolehkan pulang, kondisi Aqila kembali menurun. Sekitar pukul 16.30 Wita, putrinya mengalami mual dan muntah muntah. Tidak ingin mengambil resiko, keluarga kembali membawanya ke Puskesmas Pringgarata sekitar pukul 17.00 Wita.
Kejadian serupa disampaikan, Ibu Azian Diana, salah seorang guru SDN Beber yang turut mengalami gangguan kesehatan, mengatakan pihak sekolah sebelumnya sempat dihubungi oleh pihak SPPG setelah adanya informasi mengenai kejadian serupa di SDN Mertak Kesambik.
Namun, informasi tersebut datang ketika makanan MBG telah dikonsumsi para siswa.
“Pihak SPPG sempat menghubungi sekolah karena ada kejadian di SDN Mertak Kesambik, tetapi makanan sudah terlanjur dikonsumsi anak anak,” kata Azian pada wartawan.
Lebih jauh disampaikan, pada awalnya kondisi tubuhnya terasa biasa saja. Namun, sekitar satu jam setelah mengonsumsi makanan, perutnya tiba-tiba terasa mual dan kemudian mengalami muntah-muntah. Sekitar pukul 17.00 Wita, ia akhirnya dibawa ke Puskesmas Pringgarata untuk mendapatkan pertolongan medis.
Di tengah kondisi tersebut, perhatian kemudian datang dari Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Makan Bergizi Gratis (APPMBGI) DPD I NTB.
Sekretaris DPD I NTB APPMBGI, Raden Imam Prasetyo, bersama sejumlah pengurus turun langsung meninjau Puskesmas Pringgarata pada 11 September 2026 sekitar pukul 19.00 Wita. Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat kondisi para korban sekaligus mendengarkan keluhan dan masukan masyarakat.
Pria yang akrab disapa Mas Raden itu mengatakan kunjungan dilakukan karena sejumlah korban kembali mendapatkan penanganan medis setelah kondisi mereka belum sepenuhnya membaik.
“Kami datang untuk melihat langsung kondisi korban sekaligus mendengarkan masukan masyarakat. Insiden ini tidak boleh dianggap sepele karena menyangkut keselamatan dan nyawa penerima manfaat,” tegas Raden Imam Prasetyo.
Ia menegaskan seluruh SPPG perlu melakukan pembenahan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi. Menurutnya, anak-anak merupakan amanah bangsa sehingga seluruh tahapan penyelenggaraan MBG harus dilakukan dengan kehati-hatian, disiplin, dan tanggung jawab.
Dalam kunjungan tersebut, Raden juga meminta SPPG terkait memberikan perhatian maksimal kepada para penerima manfaat, khususnya siswa yang menjadi korban.
Berdasarkan analisis sementara yang disampaikan APPMBGI DPD I NTB, terdapat dugaan salah satu menu mengalami penurunan kualitas dalam proses distribusi dan penyajian. SPPG yang disebut berkaitan dengan temuan tersebut adalah SPPG Yayasan Budi Sain Mangkling yang beralamat di Dusun Gunung Kedul, Desa Mekar Bersatu, Kecamatan Batukliang, Kabupaten Lombok Tengah.
Meski demikian, dugaan tersebut masih membutuhkan pembuktian melalui pemeriksaan resmi. Hasil investigasi laboratorium dari Dinas Kesehatan dan Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) NTB menjadi bagian penting untuk mengetahui penyebab sebenarnya dari gangguan kesehatan yang dialami para korban.
Mas Prasetyo menilai keamanan pangan dalam program MBG tidak cukup hanya mengandalkan pengawasan di dapur akhir. Rantai pasok, mulai dari pemilihan bahan baku, penyimpanan, pengolahan, distribusi hingga makanan diterima dan dikonsumsi penerima manfaat, menurutnya harus mendapatkan pengawasan secara menyeluruh.
Di titik inilah program MBG seperti sedang diuji. Sebab, makanan bergizi tidak cukup hanya memenuhi ukuran gizi di atas kertas. Makanan tersebut juga harus aman ketika sampai ke meja makan anak-anak.
APPMBGI DPD I NTB pun mengimbau masyarakat tetap tenang dan menjaga kondusivitas sambil menunggu hasil resmi pemeriksaan laboratorium. Kepastian mengenai penyebab kejadian diharapkan dapat diperoleh berdasarkan data dan hasil pemeriksaan, bukan sekadar dugaan atau pernyataan sepihak.
Berdasarkan data yang dihimpun media suara nurani, jumlah korban yang terkena keracunan massal di Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) berjumlah 277 orang: 181 orang berasal dari SDN Beber. Sementara di SDN Mertak Kesambik Daye 95 orang dan sisanya di SDN Repok Puyung berjumlah 1 orang.
Kasus tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa program MBG bukan semata-mata tentang membagikan makanan kepada anak sekolah. Di balik setiap kotak makanan, ada kepercayaan orang tua, kesehatan siswa, tanggung jawab pengelola, serta amanah negara.
Keberhasilan program Makan Bergizi Gratis, bukan hanya berbicara kuantitas dari makanan yang dibagikan. Namun yang jauh lebih penting adalah seberapa aman makanan itu sampai kepada penerima manfaat. Sehingga, keselamatan mereka benar benar menjadi prioritas utama.






