LOMBOK TIMUR – Kesucian hati terkadang lahir dari ruang yang paling sempit, dari hati yang terluka dibalik kurungan dan tingginya tembok penjara para narapidana.
Kalimat bijak tersebut pantas disematkan pada warga binaan Lapas Kelas IIB Selong. Betapa tidak, ditengah keterbatasan dalam masa menjalani hukuman, dengan penuh tulus tanpa pamrih mereka ikut membersihkan lorong lorong kotor disepanjang Pasar Pancor Kabupaten Lombok Timur (Lotim).
Di tengah hiruk pikuk pasar yang menjadi denyut kehidupan kota, Camat Selong Lalu Ridho Arindi, S.IP, memimpin langsung gerakan bersih-bersih bersama para lurah dan unsur Forkopimcam, Jumat (05/12/2025).

Namun yang unik dari giat tersebut, semua mata tertuju pada pada para warga binaan, orang orang yang kerap dipandang sebelah mata, tetapi justru menunjukkan kepedulian tulus tanpa keluh terhadap kebersihan lingkungan.
Kepada wartawan, Ridho menjelaskan, kegiatan ini merupakan bagian dari gerakan “Selong Meriri”, sebuah upaya menata wajah kota agar lebih rapi dan nyaman. Ia menyebut gerakan itu berdiri di atas dua prinsip: memelihara yang baik dan memperbaiki yang masih kurang.
Kendati demikian, pagi itu prinsip itu terasa mendapat maknanya yang paling manusiawi lewat kehadiran para warga binaan.
“Kolaborasi ini menunjukkan bahwa merawat kota bukan semata urusan pemerintah. Semua pihak seperti forkopimcam, para lurah, OPD Lingkungan Hidup, PUPR, pengamat Sungai Kokok Tojang, Polsek, Koramil turut serta berkontribusi” ujar Ridho.
Lebih jauh disampaikan, gerakan Selong Meriri adalah bagian mewujudkan program SMART Pemerintah Kabupaten Lombok Timur.
Di sela-sela tumpukan sampah yang disapu bergantian, ia melihat tindakan para warga binaan sebagai simbol bahwa perubahan besar kerap dimulai dari niat yang sederhana.
Dengan mata yang tampak berkaca-kaca, Ridho menyampaikan apresiasi mendalam. “Terima kasih kepada seluruh pihak, khususnya Lapas Selong yang telah mengirimkan warga binaan. Ini sungguh luar biasa dan patut dihargai,” ucapnya.
Menurutnya, sebuah kota yang baik tidak dibangun oleh jabatan atau fasilitas, melainkan oleh tangan-tangan yang tulus bekerja, termasuk tangan mereka yang sedang menata kembali hidupnya dari balik jeruji.
“Kepekaan warga binaan, mengajarkan kita bahwa kepedulian tak mengenal status atau dinding yang mengurung,” ucapnya penuh hari.
Keterlibatan warga binaan dalam giat ‘Selong Meriri’ adalah inspirasi untuk kita semua. Dinginnya ruang penjara dan belengggu jeruji besi memberi arti meski ditengah keterbatasan tidak menghalangi setiap insan untuk berbuat kebajikan.






