LOMBOK TIMUR – Satu abad lebih kiprah Muhammadiyah sebagai motor penggerak peradaban. Konsistensinya dalam mendirikan lembaga pendidikan di tengah keterpurukan ekonomi dan kebodohan bangsa di era kolonial. Kehadiran organisasi Muhammadiyah laksana sang surya di tengah suramnya kondisi bangsa pada waktu itu.
Kehadiran Muhammadiyah telah menunjukkan konsistensinya sebagai garda perubahan dari zaman ke zaman bagaikan oase di padang tandus yang gersang.

Kini, memasuki usia 113 tahun, jejak historis Muhammadiyah menjadi pengingat bahwa pembangunan bangsa tidak hanya dilahirkan dari perjuangan politik, melainkan juga dari kerja-kerja sosial, pendidikan, dan pemikiran yang telah disemai jauh sebelum kemerdekaan diraih. Warisan yang ditinggalkan Kiai Ahmad Dahlan terus berlanjut, menjadi bagian penting dalam perjalanan Indonesia menuju masyarakat yang maju, berdaya, dan tercerahkan.
Sejak berdirinya organisasi Muhammadiyah pada 18 November 1912 di Kampung Kauman, Yogyakarta. Tentunya, tidak terlepas dari getirnya perjuangan salah satu tokoh nasional pahlawan kemerdekaan. Dialah Kiai Haji Ahmad Dahlan, Sang Pencerah yang merupakan pelopor gerakan pemurnian ajaran Islam melalui dakwah amar ma’ruf nahi munkar.

Memasuki usia ke-113, Muhammadiyah terus menunjukkan konsistensinya membangun peradaban bangsa melalui tiga pilar utama: pendidikan, kesehatan, dan ekonomi, yang menjadi fondasi gerakan dalam meningkatkan kecerdasan, kesejahteraan, dan pelayanan sosial bagi umat.
Peringatan Milad Muhammadiyah ke-113 di Kabupaten Lombok Timur digelar di Kampus ITSKes Muhammadiyah Selong, Sabtu (22/11/2025). Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lombok Timur, Roma Hidayat, ST., menyampaikan harapannya agar Muhammadiyah semakin matang dalam kontribusinya bagi masyarakat.

Roma menyinggung laporan The World Happiness Report terbitan PBB yang menempatkan Indonesia pada kategori menengah dengan skor kebahagiaan 5,6. Menurutnya, kondisi ini menggambarkan nilai-nilai Islam belum sepenuhnya diterapkan dalam kehidupan sosial.
Ia menekankan pentingnya implementasi ajaran yang terkandung dalam Surat Al-Ma’un sebagai “DNA” gerakan Muhammadiyah, yang menekankan kepedulian kepada anak yatim, fakir miskin, dan kaum lemah. “Setiap muslim seharusnya mengamalkan dakwah Al-Ma’un. Saat ini, kepedulian itu mulai menurun,” ujarnya.
Ia mengajak warga Muhammadiyah dan masyarakat luas untuk kembali memperkuat praktik sosial sesuai spirit Al-Ma’un dengan memperkuat ukhuwah islamiah serta menjaga soliditas persyarikatan.

Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) NTB, Dr.H.Falahuddin, M.Ag., yang turut hadir, mengulas kembali sejarah berdirinya Muhammadiyah yang terinspirasi oleh ajaran dalam surat Al-Maun tersebut. Ia mengingatkan pentingnya menjaga ukhuwah islamiyah dan tidak mudah terpecah karena perbedaan khilafiyah.
“Perjalanan Muhammadiyah selama 113 tahun bukan waktu yang singkat. Organisasi ini telah menghadapi banyak tantangan dalam upaya memajukan pendidikan dan peradaban,” katanya, sekaligus menyinggung program Presiden Prabowo Subianto yang dinilainya berpihak pada masyarakat.

Ia pun membeberkan jumlah Perguruan Tinggi Muhammadiyah hingga saat ini mencapai 165 Perguruan Tinggi se Indonesia. Hal itu merupakan wujud implementasi dari cita cita sang pendiri Kiyai Haji Ahmad Dahlan, dalam memajukan pendidikan di Indonesia.
Sementara itu, Direktur Pondok Pesantren Muhammadiyah Boarding School (MBS) Selong, M.Arhandika Rahman, mengingatkan pentingnya menjaga komitmen pendidikan sebagai ruh gerakan Muhammadiyah yang kini memasuki usia ke-113.

Pada kesempatan itu, ia mengajak seluruh elemen untuk tetap menyalakan semangat itu melalui pembinaan generasi muda.
MBS Selong sejak didirikan pada tahun 2021, fokus pada pendidikan keislaman. Menurutnya, kebutuhan akan lahirnya para da’i muda yang akan meneruskan misi dakwah di Gumi Patuh Karya menjadi alasan lembaganya terus memperkuat basis pendidikan agama.
“Harapan sederhana kami adalah, bagaimana mencetak kader kader Qur’ani yang tidak hanya memahami ilmu agama, tetapi juga memiliki cara pandang yang luas,” ujar Ustadz Dika, Sabtu (22/11/2025).
Lebih jauh disampaikan, pembinaan yang dilakukan di MBS Selong tak sekadar menanamkan pengetahuan agama, tetapi juga mengasah akhlak serta kemampuan beradaptasi di tengah masyarakat. Pesantren ini, lanjutnya, menerapkan pola pendidikan yang menggabungkan pendalaman syariat dengan penguatan pengetahuan umum dan pembentukan karakter peserta didik.

Rangkaian Milad diwarnai pembacaan tilawah Al-Qur’an oleh qoriah terbaik serta atraksi pencak silat Tapak Suci Muhammadiyah dan Persembahan lagu Sang Surya Mars Muhammadiyah dari ibu ibu Aisyiah yang menambah semarak acara.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua Dewan Muhtasyar PB NWDI TGH M. Yusuf Ma’mun, unsur Forkopimda, Kemenag Lombok Timur, civitas akademika ITSKes Muhammadiyah Selong, pimpinan Muhammadiyah NTB dan Lotim, sejumlah ormas keagamaan, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta tamu undangan lainnya.
Penulis: Pimpinan Umum Media Suara Nurani
Sarjono,.S.AP.






