LOMBOK TIMUR — Ketika langit belum menurunkan hujan, manusia belajar bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada kesombongan, melainkan pada ketundukan dan ketaatan kepada Allah SWT.
Kalimat bijak tersebut adalah gambaran ikhtiar bersama Pemerintah Kabupaten Lombok Timur memohon turunnya hujan di tengah kondisi kekeringan dan keterbatasan air. Bupati bersama Sekretaris Daerah, jajaran Forkopimda dan organisasi perangkat daerah (OPD), serta jajaran karyawan Pemerintah Kabupaten Lombok Timur menggelar salat Istisqa (Shalat meminta hujan) di halaman Kantor Bupati Lombok Timur, Kamis (8/10/2026).
Usai shalat Istisqa, Bupati Haerul Warisin dalam pidatonya mengatakan, salat Istisqa merupakan bentuk ketundukan manusia sekaligus ikhtiar spiritual saat dilanda kekeringan.
“Hari ini kita sujud bukan dengan kesombongan, tetapi dengan ketundukan. Kita mengakui kelemahan di hadapan Allah SWT,” kata orang nomer satu di Lombok Timur itu.
Menurutnya, hujan bukan sekadar fenomena alam, melainkan bagian dari rahmat Allah yang sangat dibutuhkan masyarakat. Karena itu, kondisi kekeringan semestinya menjadi momentum untuk melakukan introspeksi atau muhasabah.
Pada kesempatan itu, ia mengajak masyarakat memperbanyak istighfar, memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, mempererat hubungan antarsesama, serta meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.
“Ketika hujan belum turun, mari kita bermuhasabah, memperbanyak istighfar, memperbaiki hubungan dengan sesama, dengan Allah, dan dengan alam,” ujarnya.
Ia mengaitkan ajakan tersebut dengan kandungan Al-Qur’an surah Nuh ayat 10–11 tentang anjuran memohon ampun kepada Allah agar mendapatkan ampunan dan hujan yang lebat.
Menurutnya, kesabaran, istighfar, dan doa harus berjalan beriringan dengan ikhtiar nyata dalam menghadapi kekeringan. “Hari ini kita memohon dengan hati yang bersih dan penuh ketundukan agar Allah menurunkan hujan sesuai dengan yang kita harapkan,” ungkapnya.
Persoalan air kata Bupati, berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat. Ketersediaan air sangat menentukan keberlangsungan aktivitas warga, terutama para petani yang menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian.
Karena itu, Pemerintah Kabupaten Lombok Timur, kata dia, akan terus mengambil langkah untuk membantu masyarakat menghadapi persoalan ketersediaan air.
Di sisi lain, ia mengingatkan masyarakat agar tidak memandang kekeringan hanya sebagai persoalan kurangnya curah hujan. Menurutnya, menjaga lingkungan merupakan bagian penting dari upaya mempertahankan ketersediaan sumber air.
Selain itu, ia menghimbau masyarakat tidak membuang sampah sembarangan, tidak merusak hutan dan sumber mata air, serta menggunakan air secara bijaksana. Karena, menjaga alam adalah bagian dari amanah.
Ia berharap salat Istisqa tidak berhenti pada permohonan turunnya hujan. Momentum tersebut, menurutnya, harus menjadi titik balik untuk memperbaiki perilaku, memperbanyak sedekah, saling membantu, dan meninggalkan perbuatan yang dapat mendatangkan kemurkaan Allah.
Pesan serupa disampaikan TGH. Khusyairi dalam khutbahnya. Ia mengajak jamaah menghadapi musibah dengan kesabaran, memperbanyak istighfar, dan melakukan introspeksi atas berbagai kekurangan dalam kehidupan.
“Perbanyak istighfar dan bermuhasabahlah ketika menghadapi musibah, perbanyak meningkatkan ketakwaan, memperbaiki diri, serta menjaga lingkungan sebagai bagian dari ikhtiar menghadapi kekeringan dan keterbatasan air di Lombok Timur,” ujar TGH Khusyairi.
Pada hakikatnya, air adalah sumber kehidupan, dan menjaga kehidupan merupakan amanah. Ketika manusia merawat bumi dengan penuh tanggung jawab, doa dan ikhtiar menemukan jalannya menuju rahmat sang Ilahi.






