LOMBOK TIMUR — Ketika ketulusan dan keikhlasan mendasari sebuah pengabdian, maka setiap lelah yang dirasakan akan menjadi lillahi ta’ala dan berbuah keberkahan yang tak terputus.
Kalimat bijak itulah yang menjadi motivasi sosok, H. Muhammad Thahir, Juru Pelihara (Jupel) Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Labuhan Haji, Kecamatan Labuhan Haji, Kabupaten Lombok Timur. Tanpa pamrih, pria 50 tahun tersebut mengabdikan dirinya merawat TPU yang di dalamnya tersimpan jejak sejarah penyebaran Islam di Pulau Lombok.

Betapa tidak, pria asal Dusun Labuaji, Desa Labuhan Haji tersebut mengabdikan dirinya merawat pekuburan setempat, atas keprihatinannya melihat kondisi TPU yang dulunya dipenuhi semak belukar dan tidak terurus.
Ditemui awak media di TPU Labuhan Haji, Minggu, (4/1/2026), pria sederhana dan bersahaja yang akrab disapa Amat Bento tersebut dengan mata berkaca-kaca, mengungkapkan keinginannya mengubah cara pandang masyarakat terhadap tempat pemakaman umum yang selama ini identik dengan kesan angker dan menyeramkan.
Diterangkannya, dengan swadaya dan bantuan para donatur, TPU Labuhan Haji, kini telah memiliki gapura dan tembok keliling, serta lampu penerangan. “Makam adalah rumah masa depan, dan sudah sepantasnya dirawat,” tuturnya dengan mata berkaca kaca.
Terlebih lagi, sambungnya, di kawasan TPU Labuhan Haji terdapat makam tertua Sayid Al Idrus yang diperkirakan wafat pada tahun 1815 yang kini telah menjadi situs cagar budaya.
Berdasarkan penuturan pria yang akrab disapa Amat Bento, mengutip keterangan seorang arkeolog dan sejarawan, almarhum Sayid Al Idrus merupakan salah satu tokoh penting penyebar agama Islam di Pulau Seribu Masjid pada masanya.
Menurutnya, merawat TPU dan situs cagar budaya bukan sekadar tugas, melainkan panggilan nurani. Ia mengenang kondisi TPU Labuhan Haji yang dahulu dipenuhi semak belukar dan terkesan tak terurus.
“Alhamdulillah, paling tidak, TPU dan situs cagar budaya kini sudah mulai tertata rapi. Ditambah dengan penerangan dan pemasangan pipa saluran air bagi para peziarah, diharapkan dapat memberikan kenyamanan saat berziarah,” ujar anggota BPD Desa Labuhan Haji itu.
Kendati demikian, ia tidak menafikan, masih banyak sarana prasarana yang membutuhkan perhatian serius. Tentunya, hal itu tidak terlepas dari support anggaran dari banyak pihak, demi kenyamanan para peziarah yang berkunjung.
“Kita berharap, Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Timur dapat memberikan perhatian lebih terhadap keberadaan situs cagar budaya tersebut.
Lebih jauh disampaikan, TPU Labuhan Haji dan situs cagar budaya didalamnya bukan hanya dikunjungi peziarah lokal. Tetapi juga dari berbagai daerah di Indonesia yang datang untuk menapaktilas jejak sejarah dan spiritual para pendahulu.






