Merawat Warisan Leluhur, Guru Lauq Indonesia dan Repoq Literasi Luncurkan Aksara Hanacaraka

- Editor

Thursday, 15 October 2026 - 15:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LOMBOK TIMUR – Warisan leluhur tidak akan bertahan hanya karena dikenang, tetapi harus dipelajari, digunakan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Semangat itulah yang melandasi kolaborasi Guru Lauq Indonesia dan Repoq Literasi dalam meluncurkan Program Belajar Aksara Sasak Hanacaraka, Kamis (15/10/2026).

Inisiatif ini menjadi langkah untuk memperkuat literasi budaya sekaligus menjaga keberlanjutan aksara tradisional masyarakat Sasak di tengah perubahan zaman.

Program tersebut dirancang sebagai ruang pembelajaran agar masyarakat, terutama generasi muda, semakin mengenal aksara Sasak dan memahami nilai budaya yang melekat di dalamnya. Peluncuran ini juga diharapkan menjadi awal gerakan pelestarian yang terarah, melibatkan komunitas, keluarga, lembaga pendidikan, budayawan, dan pemerintah.

Direktur Program Belajar Aksara Sasak, Muhir, menjelaskan bahwa pengenalan aksara tradisional membutuhkan proses pembelajaran yang konsisten. Pelestarian tidak cukup dilakukan melalui kegiatan seremonial, tetapi harus dilanjutkan dengan kelas rutin, pendampingan, dan penyediaan bahan ajar yang memudahkan masyarakat mempelajari serta mempraktikkan aksara Sasak.

Menurutnya, keberlanjutan kegiatan menjadi salah satu faktor penting untuk memperluas partisipasi masyarakat. Dengan ruang belajar yang teratur, aksara Sasak diharapkan tidak hanya dikenal sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga menjadi bagian dari pengetahuan budaya yang hidup di tengah masyarakat.

Hal senada disampaikan Founder Guru Lauq Indonesia, Dr. Hanapi, M.Si., kepada awak media menegaskan, program tersebut berangkat dari keprihatinan terhadap semakin terbatasnya pengenalan dan pembelajaran aksara tradisional Sasak. Perubahan pola komunikasi dan perkembangan zaman dinilai turut mempersempit ruang pewarisan pengetahuan aksara dari satu generasi ke generasi berikutnya.

“Program ini berangkat dari kegelisahan kami melihat aksara tradisional Sasak yang mulai jarang dikenal dan dipelajari. Kami ingin menghadirkan ruang belajar agar masyarakat dapat mengenal aksara ini,” ujar akademisi Universitas Hamzanwadi tersebut.

Menurutnya, bahasa dan aksara bukan sekadar perangkat komunikasi. Keduanya menyimpan identitas, pengetahuan lokal, nilai kehidupan, serta ingatan kolektif yang membentuk karakter suatu masyarakat. Ketika aksara semakin jarang dipelajari, sebagian pengetahuan budaya yang menyertainya juga berisiko kehilangan ruang untuk diwariskan.

Baca Juga :  Tradisi Tiu Warga Jantuk Pasca Idul Fitri, Fotret Kekayaan Budaya Nusantara

Karena itu, Hanapi berharap program ini berkembang menjadi gerakan pembelajaran berkelanjutan dengan dukungan berbagai pihak. Keluarga, komunitas literasi, lembaga pendidikan, budayawan, tokoh adat, dan pemerintah dinilai memiliki peran penting untuk memperluas jangkauan pembelajaran.

“Kita berharap aksara Sasak kembali hadir di ruang belajar dan kehidupan masyarakat. Generasi muda perlu mengenal dan mempelajarinya, karena kita adalah pewaris masa kini sekaligus penjaga warisan bagi generasi mendatang,” ucap sang doktor jebolan Undiksha kepada wartawan.

Dukungan terhadap inisiatif Guru Lauq Indonesia dan Repoq Literasi juga disampaikan Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Dikbud Lombok Timur, Abd Hayyi, M.Pd. Pada kesempatan itu, ia mengapresiasi upaya Guru Lauq Indonesia dalam membuka ruang pembelajaran aksara Sasak Hanacaraka dan berharap pengenalannya dapat diperluas melalui sistem pendidikan.

Menurut Hayyi, integrasi pembelajaran bahasa dan aksara Sasak ke dalam kurikulum sekolah perlu dipersiapkan secara sistematis agar pelaksanaannya memiliki arah dan dukungan yang memadai. Upaya tersebut juga perlu diperjuangkan melalui Kongres Internasional Bahasa Sasak. Sehingga dapat memperoleh perhatian lebih luas dan menghasilkan rekomendasi yang bisa ditindaklanjuti.

Lebih lanjut disampaikan, penyusunan capaian pembelajaran (CP), modul, dan perangkat pendukung lainnya telah menjadi bagian dari upaya memperkuat pembelajaran bahasa Sasak. Perangkat tersebut diharapkan menjadi landasan untuk mengembangkan proses pembelajaran yang lebih terstruktur di lingkungan pendidikan.

“Ketersediaan bahan ajar, kesiapan tenaga pendidik, serta dukungan kebijakan menjadi unsur penting agar pewarisan bahasa dan aksara Sasak dapat berlangsung secara berkesinambungan. Dengan demikian, pelestarian budaya tidak hanya bergantung pada kegiatan komunitas, tetapi juga memperoleh ruang dalam proses pendidikan formal,” pungkasnya.

Sementara itu, Pengerakse Majelis Adat Sasak (MAS), Dr. Lalu Sajim Satrawan, menekankan pentingnya penguatan sumber daya manusia untuk selalu berjalan seiring dengan kesadaran terhadap identitas dan kebudayaan sendiri. Menurutnya, masyarakat Sasak harus mengambil peran aktif dalam merawat warisan leluhur di tengah perubahan sosial yang terus berlangsung.

Baca Juga :  Perjuangan PD AMAN Berbuah Perda, Kini Menanti SK Bupati Lombok Timur

Dijelaskannya, kehidupan masyarakat Sasak terbentuk melalui perjumpaan berbagai unsur etnis yang kemudian membangun kehidupan bersama di bumi Sasak. Dalam perjalanan tersebut, bahasa dan kebudayaan menjadi bagian penting dari identitas yang perlu dipahami serta dirawat oleh generasi penerus.

Selain itu, Lalu Sajim juga menyoroti semakin banyaknya diksi atau kosakata bahasa Sasak yang mulai jarang digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Kondisi ini perlu mendapat perhatian karena bahasa bukan hanya kumpulan kata, melainkan juga wadah nilai, pengetahuan, dan cara pandang yang diwariskan antar generasi.

Baginya, pembelajaran aksara Sasak Hanacaraka menjadi salah satu pintu masuk untuk menumbuhkan kembali kesadaran masyarakat terhadap warisan budayanya. Namun, keberhasilan pelestarian tidak dapat dibebankan hanya kepada komunitas tertentu. Maka dari itu, peran keluarga, lembaga pendidikan, komunitas literasi, dan tokoh adat perlu mengambil bagian dalam proses tersebut.

Keberhasilan program, kata Lalu Sajim, bisa dilihat dari tumbuhnya minat masyarakat untuk belajar, bertambahnya orang yang mengenal aksara Sasak, serta munculnya kemauan untuk meneruskan pengetahuan itu kepada orang lain.

Kendati demikian, ia berhap semangat yang muncul saat peluncuran tidak hanya sebagai agenda sesaat. Ketersediaan kelas, pendampingan, bahan ajar, serta dukungan kelembagaan akan menentukan sejauh mana program ini mampu menjangkau masyarakat dan menumbuhkan pembelajar baru.

“Kolaborasi Guru Lauq Indonesia dan Repoq Literasi diharapkan menjadi titik awal pengembangan gerakan literasi agar budaya Sasak memperoleh tempat yang lebih kuat dalam kehidupan bermasyarakat. Khususnya, lingkungan pendidikan,” ungkap Lalu Sajim.

Sejatinya, bangsa yang menghargai masa depannya adalah bangsa yang tidak membiarkan warisan masa lalunya hilang tanpa sempat dikenal oleh anak cucunya. Pelestarian aksara Sasak Hanacaraka bukan sekadar upaya mempertahankan bentuk tulisan tradisional, melainkan ikhtiar menjaga identitas, memperkuat literasi budaya dan memastikan warisan leluhur menjadi pijakan dari generasi ke generasi.

Berita Terkait

Ritual Beguru Tandai Peluncuran Program Belajar Aksara Sasak di Lombok Timur
Perjuangan PD AMAN Berbuah Perda, Kini Menanti SK Bupati Lombok Timur
Menjaga Warisan Leluhur, AMAN Lotim Dorong Baleg DPR RI Percepat RUU Masyarakat Adat
Merawat Budaya Ditengah Modernisasi, Nyelamet Dowong Simbol Warisan Leluhur di Denggen Lombok Timur
Tanpa Pamrih Merawat Rumah Masa Depan, Inilah Sosok Amat Bento, Juru Pelihara TPU dan Cagar Budaya Labuhan Haji
Menjaga Tradisi Tak Tergerus Zaman, AMAN Lotim Desak Perda Masyarakat Adat
Fashion Show Pesona Tenun Lombok Timur, Wabup Edwin Bersama Isteri Memukau Seperti Pasangan Selebriti
Sambut 1 Muharam, Warga Lotim Gelar Festival Ribuan Dulang
Berita ini 72 kali dibaca

Berita Terkait

Friday, 16 October 2026 - 11:53 WIB

Ritual Beguru Tandai Peluncuran Program Belajar Aksara Sasak di Lombok Timur

Thursday, 15 October 2026 - 15:58 WIB

Merawat Warisan Leluhur, Guru Lauq Indonesia dan Repoq Literasi Luncurkan Aksara Hanacaraka

Thursday, 8 October 2026 - 17:06 WIB

Perjuangan PD AMAN Berbuah Perda, Kini Menanti SK Bupati Lombok Timur

Tuesday, 9 June 2026 - 19:26 WIB

Menjaga Warisan Leluhur, AMAN Lotim Dorong Baleg DPR RI Percepat RUU Masyarakat Adat

Saturday, 31 January 2026 - 01:17 WIB

Merawat Budaya Ditengah Modernisasi, Nyelamet Dowong Simbol Warisan Leluhur di Denggen Lombok Timur

Berita Terbaru

TRANSLATE

You cannot copy content of this page