LOMBOK TIMUR – Jika harga cabai sudah melambung, jangan salahkan jika suara emak emak lebih pedas dari tantangan perang Iran kepada Israel.
Bahasa sindiran diatas merupakan bahasa kiasan yang menggambarkan luapan emosi ibu ibu rumah tangga ketika harga bahan pokok melambung tinggi. Hal itu bukan tidak berdasar. Harga cabai rawit di bulan suci tiba tiba melonjak drastis mencapai Rp 200 ribu rupiah per kilogram.
Menyikapi hal itu, Sekda Lombok Timur, Dr.H.M.Juaini Taufik, selaku Ketua Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) kepada Media Suara Nurani, Sabtu (21/2/2026) mengaku sangat perihatin atas melonjaknya harga cabai rawit yang melonjak drastis.
Menurut Sekda, harga cabai yang menjulang tinggi adalah anomali cuaca di Lombok, sehingga menyebabkan tanaman cabai petani mengalami kerusakan. Terlebih lagi, di bulan suci Ramadhan permintaan cabai sedang tinggi tingginya.
Guna mengantisipasi hal itu, kata Juaini Taofik, saat ini, TPID sedang melakukan penjajakan dengan daerah penghasil cabai seperti Makasar untuk menambah suplai di pasar pasar tradisional. Dengan harapan, harga cabai lebih terjangkau. “Semoga tidak ada aral melintang, dalam waktu dekat, cabai dari Makasar akan disuplai melalui champion cabai lalu kemudian akan dipasok ke pasar pasar tradisional,” kata Juaini penuh harap.
Sementara, Kepala Dinas Perdagangan, Hadi Fathurahman., S.Sos.M.AP., mengatakan, turun naik harga cabai adalah hal yang wajar, dikarenakan siklus tahunan. Terlebih lagi, di bulan Ramadhan ini tingginya permintaan cabai rawit. Sehingga mempengaruhi harga pasar.
Lebih jauh disampaikan Kadis Perdagangan, dari hasil koordinasi dengan Saber Pelanggaran Harga dengan Ketua Champion Cabe, salah satu penyebab kenaikan harga cabai rawit merah, dikarenakan pasokan dari petani berkurang.
Menanggulangi kelangkaan cabai yang merupakan salah satu komoditi yang sangat dibutuhkan masyarakat. Pemda Lombok Timur melalui TPID telah berkoordinasi dengan Champion Cabe akan mendatangkan cabai dari luar daerah. Terutama, dari daerah penghasil cabai.
Selain itu, kata Hadi Fathurahman, dalam pertengahan bulan puasa akan ada panen raya. “Tentunya, dengan panen raya bisa menormalkan kembali harga cabai rawit di pasaran,” pungkasnya.






