LOMBOK TIMUR, – Hembusan sang bayu pantai selatan diantara dedaunan, deburan ombak pasir putih Ekas Buana, menyaksikan perempuan pendatang dengan penuh kasih sayang mengedukasi anak anak pesisir belajar bahasa asing tanpa pamrih dan tanpa imbalan apa apa.
Dialah Ruth Seraan (40) perempuan pendatang asal Kupang Nusa Tenggara Timur (NTT) yang tiada lain adalah pemilik Panorama Cottages Beach Village, Desa Ekas Buana, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Dengan tangan dinginnya, perempuan yang akrab disapa Teacher Noy, telah mengubah pandangan masyarakat sekitar. Betapa tidak, anak anak pesisir Ekas Buana yang masih duduk di bangku Pendidikan Anak Usia Dini dan Sekolah Dasar, kini telah menguasai bahasa international dari berbagai bahasa dibelahan dunia diantaranya: Bahasa inggris, Italia, Rusia, Spanyol, Jepang, China, German dan beberapa bahasa lainnya.
Bagi Teacher Noy, pantai adalah ruang kelas, angin segara adalah nyanyian kehidupan, bersama gemuruh ombak laut selatan yang kelak akan selalu dikenang oleh anak asuhnya.
“Biarkan terik mentari senja, menghitamkan kulit mereka saat ini, asal jangan menenggelamkan mimpi dan asa mereka dikemudian hari,” ucapnya sembari memeluk erat anak anak didiknya.
Mengajarkan ilmu ditengah keterbatasan, ungkapnya, merupakan tantangan baginya. Kelas bahasa yang ia dirikan saat ini, bukan hanya belajar grammar atau pronunciation. Tapi, disana anak anak belajar membaca dunia dengan bahasa. Mereka juga ditempa untuk belajar mengejar mimpi dan memahami kesuksesan berawal dari pahit getirnya kehidupan.
“Sejatinya, mengajarkan ilmu tidak harus terbatas dengan ruang kelas, seragam, kurikulum dan segala pernak pernik formalitas dunia pendidikan. Namun, yang terpenting adalah bagaimana memantik semangat mereka disiplin belajar dan berdiri di kaki mereka sendiri untuk menyongsong kehidupan esok yang lebih baik,” tutur teacher Noy (28/10/2022).
Teacher Noy membeberkan, keperihatinannya pada anak anak Ekas Buana bermula saat Pandemi Covid-19 beberapa tahun silam. Secara global, dampak covid-19, menurutnya menjadikan perekonomian dunia merosot drastis. Ditambah lagi, ditengah merosotnya pariwisata yang telah mati suri.
Di masa pandemi, dunia pariwisata benar benar terpuruk. Begitupula dengan dunia pendidikan, anak anak sekolah harus belajar secara virtual (during), sementara, anak anak pesisir mayoritas berasal dari keluarga nelayan kurang mampu.
Jangankan untuk memiliki Handphone Android yang serba mahal seperti anak anak kebanyakan. Untuk memenuhi kebutuhan sehari hari saja, seperti makan dan kebutuhan pokok. Mereka sangat bergantung pada penghasilan orang tua yang rata rata berprofesi sebagai nelayan yang sangat bergantung pada cuaca alam dan tangkapan hasil nelayan.
“Saat pandemi itulah, hati saya tergerak untuk mamanfaatkan waktu luang untuk mengajarkan bahasa internasional pada anak anak pesisir Ekas Buana, meskipun dengan segala keterbatasan,” ucap isteri Mr.Max tersebut.
Meskipun pembelajaran di alam bebas, seperti dibawah pepohonan dan tidak jarang pula di pesisir pantai. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangatnya anak anak didiknya untuk belajar menguasai bahasa dunia.
Meskipun ia tidak menampik, adanya suara sumbang tentang dirinya dan anak anak binaannya. Namun baginya, hal itu adalah bagian kecil dari ujian untuk menggapai sebuah cita cita mulia.
Sebagaimana kata pribahasa, usaha dan kerja keras tidak akan menghianati hasil. Anak anak asuhnya kini telah fasih menguasai berbagai bahasa. Meskipun untuk pemula. Hal itu telah membuka mata semua orang, bahwa ilmu bisa didapatkan darimana saja dengan tidak melihat etnis, budaya dan berbagai perbedaan lainnya. Asalkan bersungguh sungguh untuk mau belajar.
Akhirnya, perjuangannya selama ini tidak sia sia, melihat anak anak asuhnya yang berusia sangat belia menjadi Guide (Pemandu) tamu tamu asing pada perhelatan World Super Bike(WSBK) di Sircuit Mandalika Lombok Tengah beberapa waktu lalu.
Kebahagiaan Teacher Noy terpancar, melihat pembalap motor kelas dunia menginap di Panorama Cottages Ekas Buana miliknya. Dipandu oleh anak anak asuhnya mulai dari penyambutan tamu hingga sajian entertainment kepada para tamu yang datang dari berbagai negara.
Hal itu adalah kebanggaan tersendiri bagi isteri dari pria berdarah italia yang mencoba peruntungan bisnisnya di wilayah selatan Lombok Timur sejak 2016 silam.
“Harapan saya, anak anak pesisir ini kelak akan menguasai bahasa internasional secara profesional. Itu merupakan harta yang tidak ternilai harganya dan menjadi kebanggaan tersendiri untuk saya dan keluarga mereka,” ucapnya dengan mata berbinar.
Kepedulian teacher Noy pada anak anak pesisir pantai selatan, merubah maindset warga sekitar terhadap dirinya. Kehadirannya Teacher Noy adalah mutiara terpendam di Ekas Buana.
Setiap ketulusan pada akhirnya akan memberi energi positip pada orang orang sekitar. Khususnya, masyarakat Ekas Buana yang kini telah menjadi tempat tinggalnya.






