LOMBOK TIMUR — Ketika musibah datang, bantuan tidak selalu harus menunggu undangan. Dari Mamben, Lombok Timur, kepedulian masyarakat kembali bergerak menuju Nusa Tenggara Timur. Relawan Majlis Taklim Darunnajah Al-Irsyadi Mamben Kabupaten Lombok Timur menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada masyarakat terdampak bencana di Kampung Nberu, Kelurahan Pota, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Penyaluran bantuan tersebut menjadi bagian dari aksi kemanusiaan bertajuk “Mamben untuk NTT”, yang digerakkan oleh Majlis Taklim Darunnajah Al-Irsyadi bersama para relawan dan masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap warga terdampak bencana.
Gerakan itu menunjukkan bahwa solidaritas tidak selalu lahir dari tempat yang berdekatan. Kadang kadang, ia justru datang dari seberang pulau, menempuh jarak yang tidak pendek, lalu hadir membawa pesan sederhana: masih ada yang peduli.
Salah satu relawan Majlis Taklim Darunnajah Al-Irsyadi Mamben, Ustaz Ahmad Asdarrudin, mengatakan bahwa penyaluran bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian dan solidaritas masyarakat Mamben terhadap warga yang membutuhkan, terutama masyarakat yang terdampak bencana di NTT.
“Sinergi para relawan merupakan bentuk kepedulian kita kepada sesama. Semoga bantuan ini dapat meringankan beban mereka,” ujar Ahmad Asdarrudin kepada awak media, Jumat (4/9/2026).
Bagi para relawan, bantuan tersebut bukan sekadar barang yang berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya. Di dalamnya terdapat rasa empati, kebersamaan, dan keinginan untuk membantu masyarakat yang sedang menghadapi masa sulit.
Aksi “Mamben untuk NTT” juga memperlihatkan peran masyarakat dalam membangun gerakan kemanusiaan secara bersama sama. Majlis Taklim Darunnajah Al-Irsyadi, para relawan dan masyarakat yang tergerak untuk membantu mengambil bagian sesuai kemampuan masing masing.
Di tengah kehidupan yang sering kali membuat orang sibuk menghitung apa yang dimiliki, gerakan kemanusiaan justru mengajak manusia menghitung apa yang dapat dibagikan. Sebab, dalam urusan menolong sesama, yang paling berharga bukan selalu besarnya bantuan, melainkan ketulusan di balik pemberian.
Kepedulian masyarakat Mamben kepada warga terdampak bencana di NTT menjadi gambaran bahwa kemanusiaan tidak mengenal batas administratif. Kelurahan, Kecamatan, Kabupaten, maupun Provinsi. Tetapi rasa senasib sebagai sesama manusia tetap memiliki ruang untuk bertemu.
Bantuan tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat dan meringankan beban masyarakat terdampak bencana di Kampung Nberu. Lebih dari itu, aksi tersebut menjadi pengingat bahwa pemulihan setelah bencana bukan hanya tanggung jawab mereka yang berada di lokasi terdampak, melainkan juga panggilan kemanusiaan bagi siapa saja yang memiliki kemampuan untuk membantu.
Setiap bencana selalu menyisakan luka, mengubah kehidupan, dan meninggalkan kesedihan. Namun, tidak mampu meruntuhkan kepedulian. “Mamben untuk NTT” membuktikan bahwa ketika manusia memilih untuk saling menguatkan, jarak bukan lagi penghalang untuk membantu sesama.






