LOMBOK TIMUR – Ketika seorang pemimpin berani dikritik dan wartawan berani menulis fakta, disitulah cerminan bahwa demokrasi itu benar benar hidup. Karena, sejatinya, awak media adalah kontrol demokrasi di suatu negeri.
Kalimat bijak tersebut menggambarkan suasana Ramadan yang penuh keakraban. Pesan tersebut terasa hidup dalam pertemuan hangat antara Bupati Kabupaten Lombok Timur dan insan pers pada acara buka puasa bersama di Pendopo Bupati Lombok Timur, Kamis (12/3/2026).
Momentum kebersamaan itu bukan sekadar agenda silaturahmi, tetapi juga ruang refleksi tentang pentingnya peran media dalam mengawal perjalanan pembangunan daerah.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Lombok Timur H. Haerul Warisin yang akrab disapa Haji Iron menyampaikan pandangannya mengenai posisi strategis wartawan di tengah dinamika pemerintahan. Dengan gaya santai namun sarat makna, ia mengaku menaruh rasa hormat sekaligus kehati-hatian terhadap profesi jurnalis. Baginya, tulisan seorang wartawan memiliki daya pengaruh besar dalam membentuk cara pandang masyarakat terhadap berbagai kebijakan publik.
Orang nomer satu di Lombok Timur itu dalam pidatonya menegaskan, bahwa hubungan baik antara pemerintah dan awak media tidak boleh mengaburkan fungsi kontrol sosial yang melekat pada dunia jurnalistik. Pada kesempatan itu dirinya mengingatkan para wartawan agar tidak ragu menyampaikan kritik apabila menemukan kebijakan atau langkah pemerintah yang dinilai keliru.
Menurutnya, kedekatan personal dengan pejabat tidak boleh menjadi alasan untuk menutupi fakta. Justru keberanian media menyampaikan kenyataan secara objektif merupakan bentuk keadilan bagi masyarakat. Ia menilai, apabila sebuah program pemerintah berjalan kurang baik, maka media memiliki kewajiban moral untuk mengungkap fakta sebenarnya. Hal itu menurutnya sebagai bahan evaluasi bersama. Sebaliknya, apabila ada keberhasilan yang diraih pemerintah daerah, publik juga berhak mengetahui capaian tersebut secara jujur dan proporsional.
Lebih jauh disampaikan, pentingnya kritik media melihat berbagai persoalan pembangunan infrastruktur di wilayah. Ia pun mencotohkan pengalamannya di wilayah Lendang Nangka Utara. Ia membeberkan, ketika turun langsung meninjau proyek pembangunan jembatan yang terhenti dan belum rampung meskipun anggaran yang dialokasikan mencapai ratusan juta rupiah.
Menurutnya, persoalan semacam itu perlu mendapat perhatian publik agar jelas siapa pihak yang bertanggung jawab terhadap proyek tersebut. Dengan adanya pemberitaan yang transparan, ia berharap masyarakat dapat memahami apakah persoalan tersebut berada di bawah kewenangan pemerintah kabupaten Lombok Timur atau instansi lain.
Meski membuka ruang kritik, Haji Iron juga menyampaikan apresiasi kepada para wartawan yang selama ini bertugas di Kabupaten Lombok Timur. Ia menilai dalam kurun waktu satu tahun terakhir, pemberitaan media lokal cenderung disampaikan berdasarkan fakta di lapangan, bukan dilandasi sentimen pribadi.
Menurutnya, sikap profesional tersebut membantu pemerintah daerah dalam meluruskan berbagai informasi yang berkembang di tengah masyarakat. Peran media, kata dia, menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan antara kritik konstruktif dan penyampaian fakta yang objektif.
Acara buka puasa bersama para awak media, ditutup dengan pantun yang disampaikan bupati sebagai simbol keakraban. Melalui momen sederhana tersebut, ia berharap hubungan antara pemerintah dan insan pers dapat terus terjalin dalam semangat sinergi yang sehat demi kemajuan pembangunan di wilayah yang dijuluki Bumi Patuh Karya tersebut.






