LOMBOK TIMUR – Barang siapa yang bersungguh-sungguh maka dapatlah ia. Peribahasa tersebut pantas disematkan pada Pemerintah Daerah Lombok Timur melalui Dinas Perindustrian. Betapa tidak, umbi porang yang merupakan umbi liar yang dulunya dipandang sebelah mata, kini telah menjadi komoditas ekspor dan memiliki prospek yang cerah. Khususnya, bagi petani porang di Kabupaten Lombok Timur (Lotim).
Kepala Dinas Perindustrian Lotim, Muhammad Azlan, kepada media suara nurani, (6/8/2025) mengatakan, dengan segala keterbatasan bahan baku termasuk sarana dan prasarana. Akhirnya, umbi porang yang berada di sentra IKM Porang di Pringgabaya Utara Kabupaten Lombok Timur, kini telah memasuki penghujung masa panen sejak awal bulan Pebruari – akhir bulan Juli 2025.
Dipaparkannya, mesin pengolahan porang yang memiliki kemampuan beroperasi 24 jam, ditambah lagi dengan pengolahan mesin tercanggih di kelasnya dan memiliki kapasitas 50 hingga 80 ton per hari. “Kemarin, produksi porang kita telah mencapai 22 ton. Tentunya, ini adalah awal yang baik dan sebagai harapan baru untuk meningkatkan perekonomian masyarakat,” ucap mantan Kepala Bapenda itu.
Selain itu, kata Azlan, industri porang yang akan di launching oleh Bupati pada tanggal 14 Agustus 2025 ini, menyerap puluhan karyawan. Untuk buruh kasar saja, saat ini telah mencapai 60 orang lebih, itu mencakup pencucian, sortir, pengepakan, termasuk didalamnya tenaga ahli di bidang laboratorium untuk mengetahui semua kandungan yang ada didalam porang tersebut.
Terlebih lagi, sambungnya, porang ini akan diolah menjadi bahan makanan, tentunya, syarat yang diinginkan oleh pemerintah china harus memenuhi standar yang diinginkan mereka selaku negara tujuan dari import umbi porang tersebut.
Menurutnya, komoditas porang sangat menjanjikan, jika berbicara harga awalnya berkisar dari 4000 – 6000 rupiah/kilo gram, kini harganya telah meningkat signifikan hingga 11 ribu/kilo gram dan merupakan prospek bagi masyarakat petani porang.
“Saat ini lahan untuk penanaman umbi porang di Lombok Timur telah mencapai 288 hektare, dengan komunitas petani yang tergabung dalam Perhimpunan Pegiat Porang Nusantara (P3N),” pungkasnya.

Lebih jauh disampaikan, melihat perkembangan produksi porang ditambah lagi dengan pesanan yang tidak terbatas dari negara China, ia optimis di tahun mendatang Bumi Patuh Karya adalah Kabupaten pertama pengekspor tepung porang di negeri yang dijuluki tirai bambu tersebut.
“Dengan meningkatnya jumlah produksi dan harga porang, sudah barang tentu akan meningkatkan harga yang pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. Sehingga, Lotim Smart yang menjadi jargon Pemerintahan kita saat ini bisa terwujud,” pungkasnya.






