LOMBOK TIMUR – Sebagai wujud implementasi dari visi Pemerintahan Smart, Pemda Lombok Timur melalui Dinas Sosial akan gelontorkan 30 milyar rupiah untuk masyarakat miskin ekstrem di Kabupaten Lombok Timur (Lotim).
Penjelasan itu disampaikan Kepala Dinas Sosial, Siti Aminah, kepada media suara nurani, Rabu (21/1/2026).
Dijelaskan mantan Kabag Keuangan tersebut, anggaran tersebut akan disalurkan dalam bentuk sembako yang akan direalisasikan menjelang Hari Raya Idul Fitri kepada masyarakat miskin ekstrem.
Adapun data penerima bantuan tersebut, sambung Kadis Sosial sebagaimana juklak dan juknis yang ada penerima bantuan itu mengacu pada Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).
Dipaparkannya, progres saat ini dalam tahap pendataan administrasi, penerima tetap berdasarkan Desil yang merupakan sistem pengelompokan tingkat kesejahteraan masyarakat.
Sistem desil ini menjadi dasar penentuan dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).
Menurut Siti Aminah, Dinsos mengacu pada skala kesejahteraan atau desil bertujuan agar sasaran penerima bantuan sosial (bansos) tepat sasaran, berdasarkan kondisi ekonomi dan sosial rumah tangga.
Dikutip dari laman Kementerian Sosial, Desil (kelompok penerima bantuan sosial) memiliki jenjang sebagai berikut:
1. Desil 1: Sangat Miskin
2. Desil 2: Miskin
3. Desil 3: Hampir Miskin
4. Desil 4: Rentan Miskin
5. Desil 5: Pas-pasan
6. Desil 6–10: Menengah ke atas (warga menengah hingga sejahtera).
Lebih jauh disampaikan, saat ini pihaknya dalam tahap pendataan dan persiapan, agar program bansos jelang Lebaran ini bisa berjalan dengan aman, lancar dan damai. Khususnya, para penerima manfaat.
Saat ini, lanjut Siti Aminah, masih dalam tahap pendampingan dan koordinasi dengan para pihak terkait, seperti Inspektorat, Aparat Penegak Hukum. Terutama, terkait perencanaannya. Termasuk didalamnya, dengan bersurat pada Pemerintahan Desa setempat.
“Kami dari Dinas Sosial, selaku perpanjangan tangan Pemda Lombok Timur, dengan penyaluran paket sembako ini bisa meringankan beban masyarakat kita yang kurang mampu. Khususnya, menjelang lebaran. Tentunya, sasaran utama adalah desil 1 (masyarakat miskin ekstrem)”, pungkasnya.






