LOMBOK TIMUR, – Menyikapi maraknya pejabat Lombok Timur (Lotim) yang tersangkut kasus korupsi di Bumi Patuh Karya, mantan Bupati Lotim Dr.H.Moh.Ali Bin Dachlan. SH.,MH, angkat bicara.
Menurut Ali BD, pentingnya sikap empati dan solidaritas terhadap sesama, terutama bagi mereka yang sedang mengalami cobaan. Sikap yang sepatutnya ditunjukkan adalah empati dan dukungan moral, bukan cacian atau kebencian terhadap banyaknya pejabat atau mantan pejabat yang tersangkut kasus korupsi.
Disampaikan mantan Bupati dua periode itu, menjadi pemimpin bukanlah hal yang mudah karena banyaknya harapan, tuntutan, dan tantangan yang dihadapi, sehingga tidak sedikit yang terjerumus dalam kesalahan, baik disengaja maupun tidak disengaja.
Pada kesempatan itu, ia mengajak masyarakat untuk bersikap bijak ketika mendengar kasus hukum yang menimpa pejabat atau mantan pejabat. Kendati demikian tugas penegak hukum harus tetap dihormati, meskipun dalam praktiknya bisa saja terjadi kekeliruan. Karena, tidak ada, manusia yang sempurna.
“Perlu di ingat, tidak semua orang yang dipenjara benar-benar bersalah, dan tidak semua yang berada di luar penjara benar-benar tidak bersalah,” imbuh tokoh kontroversi tersebut
Ia pun membeberkan peristiwa di masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, kendati berbeda haluan politik tokoh nasional yang akrab disapa Gusdur itu berkunjung di kediaman mantan Presiden Soeharto meskipun telah lengser dari jabatannya. Ditengah himpitan politik dari berbagai tekanan.
Meskipun selama bertahun-tahun memiliki perbedaan pandangan politik, sambungnya, namun Gus Dur tetap menunjukkan sikap empati sebagai sesama manusia dan sesama muslim.
“Perbedaan politik adalah hal yang lumrah dalam kehidupan bernegara. Namun, ketika seseorang tertimpa musibah, rasa empati dan silaturahmi harus tetap dipupuk,” paparnya.
Lebih jauh disampaikan, suatu ketika ia pernah berkunjung di sejumlah pejabat yang sedang menghadapi masalah hukum, seperti Wakil Gubernur Bonyo, Bupati Lombok Barat Iskandar, dan Bupati Lombok Barat Zaini Aroni.
Kehadiran dan dukungan moral dari teman-teman, menurutnya sangat berarti dalam menghadapi cobaan tersebut. “Mereka terhibur, masih ada teman yang peduli. Inilah sikap yang seharusnya kita ambil ketika saudara kita mengalami musibah, bukan justru mendoakan keburukan mereka,” ucap pria kelahiran 30 Desember 1948 itu.
“Sebagai pengingat untuk kita semua, dalam kehidupan sosial dan politik, empati dan kebijaksanaan dalam bersikap sangat diperlukan. Sikap saling mendukung di tengah ujian, tanpa menghakimi secara berlebihan. Nilai itulah yang harus tetap dijunjung tinggi oleh semua masyarakat yang memiliki norma dan etika,” Mantan orang nomer satu di Bumi Patuh Karya.






