Napak Tilas Gerakan Pramuka dari Zaman Kolonial, Sebagai Cikal Bakal Pergerakan Aktivis

- Editor

Friday, 15 August 2025 - 10:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto Penulis: Andra Ashadi

Foto Penulis: Andra Ashadi

Gerakan Pramuka di Indonesia bukanlah sekadar kegiatan baris-berbaris, berkemah, atau lomba memasak di atas tungku sederhana. Ia adalah bagian dari denyut sejarah panjang perlawanan dan pembentukan karakter bangsa. Pramuka adalah warisan gerakan kepanduan yang mengakar sejak era kolonial, lahir dari rahim perjuangan, ditempa oleh zaman, dan mengalirkan darah keberanian pada generasi muda.

Kisahnya dimulai awal abad ke-20, ketika Hindia Belanda masih menancapkan kuku kekuasaannya di bumi Nusantara. Gerakan kepanduan internasional yang dipelopori Robert Baden-Powell di Inggris merambah ke berbagai penjuru dunia, termasuk tanah jajahan. Di Hindia Belanda, kepanduan pertama berdiri tahun 1912, dibawa oleh para pejabat kolonial untuk melatih disiplin, keterampilan, dan loyalitas, tentu saja, bukan kepada tanah air, melainkan kepada pemerintah penjajah.

Akan tetapi, sejarah pergerakan selalu punya satu hukum besi: benih yang ditanam penjajah sering tumbuh menjadi pohon perlawanan. Gerakan kepanduan di Hindia Belanda mulai diserap oleh kaum bumiputra progresif, lalu dimodifikasi menjadi alat pembentukan kesadaran kebangsaan. Lahir organisasi kepanduan pribumi seperti Javaansche Padvinders Organisatie (JPO) yang didirikan oleh S.P. Mangkunegara VII pada tahun 1916 di Surakarta. Dari sinilah kepanduan menjadi wadah perjuangan terselubung.

Baca Juga :  Menata Masa Depan Indonesia, Presiden Prabowo Harus Benar-Benar Menjadi Presiden Republik Indonesia 

Periode 1920–1930-an adalah masa di mana kepanduan menjadi bagian dari jaringan gerakan nasionalis. Bermunculan organisasi kepanduan milik organisasi pergerakan, seperti Pandu Hizbul Wathan (Muhammadiyah), Pandu Ansor (NU), Nationale Padvinderij (PNI), dan Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI). Mereka mengajarkan barisan, keterampilan lapangan, dan semangat self-help, tetapi di balik itu semua, mereka menanamkan ide: Indonesia merdeka.

Pemerintah kolonial mulai curiga. Kepanduan pribumi diawasi ketat, bahkan dibatasi kegiatannya. Tapi semangat tidak bisa diborgol. Setiap latihan, setiap upacara, menjadi momen menyisipkan nilai-nilai kemerdekaan. Banyak tokoh pergerakan yang lahir dari kawah candradimuka kepanduan.

Tahun 1942, Jepang membubarkan semua organisasi kepanduan, menggantinya dengan Keibodan, Seinendan, dan Gakutotai. Ini adalah organisasi semi-militer untuk mendukung kepentingan perang Jepang. Meski dimaksudkan untuk mengontrol pemuda, justru keterampilan dan kedisiplinan yang didapat menjadi bekal penting bagi pemuda Indonesia untuk berjuang saat proklamasi kemerdekaan 1945.

Setelah kemerdekaan, kepanduan kembali bergeliat. Puluhan organisasi kepanduan berdiri, mencerminkan keragaman ideologi dan basis sosial-politik saat itu. Namun, keragaman ini sering memicu perpecahan. Pada 1961, Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 238 Tahun 1961 yang mempersatukan seluruh organisasi kepanduan menjadi satu: Gerakan Pramuka. 14 Agustus 1961 ditetapkan sebagai Hari Pramuka, menjadi tonggak resmi lahirnya wadah tunggal ini.

Baca Juga :  Indahnya Kebersamaan, Milad ke-7 FWMO Kapolres Lotim Ajak Wartawan Sinergi Menjaga Kondusifitas

Bagi aktivis pergerakan, Pramuka bukan sekadar atribut seragam, dasi, atau tongkat. Ia adalah ruang pembibitan generasi yang berani, disiplin, dan setia pada tanah air. Dalam sejarahnya, Pramuka adalah bentuk resistensi kultural: di era kolonial ia menyamarkan api perlawanan di balik keterampilan lapangan, di era Jepang ia menjadi sekolah militer rakyat, dan di era kemerdekaan ia memupuk persatuan di tengah keragaman.

Sejarah ini mengajarkan, bahwa Pramuka sejati bukan hanya soal tali-temali atau peta kompas, tapi juga tentang keberanian melawan ketidakadilan dan kesetiaan pada cita-cita kemerdekaan. Aktivis pergerakan hari ini harus melihat Pramuka sebagai kawan seperjuangan dalam membentuk generasi yang tidak tunduk pada penindasan, siap berkhidmat pada rakyat, dan terus menjaga api nasionalisme tetap menyala.

Berita Terkait

Seruput Kopi Hadirkan Inspirasi, Filsafat Lahirnya Komunitas Guru Lauq Indonesia
Indahnya Kebersamaan, Milad ke-7 FWMO Kapolres Lotim Ajak Wartawan Sinergi Menjaga Kondusifitas
Dukung Stabilitas Siskamtibmas, Laskar NTB Bangun Sinergi Bersama Pemerintah dan Aparat Keamanan
Menengok Hukum Adat Untuk Menjaga Lingkungan
Dinilai Tidak Berakhlak, IDEAL dan Sejumlah Pemerhati Serukan Menteri Agama Copot Kepala Kemenag NTB
Menata Masa Depan Indonesia, Presiden Prabowo Harus Benar-Benar Menjadi Presiden Republik Indonesia 
Laskar Sasak Serukan Pemerintah Daerah Lombok Timur Resposif Mendengar Keluhan Masyarakat
Lembaga Bangkit Lantang Suarakan Nasib Tenaga Non ASN di Lingkup Pemda Lombok Timur
Berita ini 22 kali dibaca

Berita Terkait

Monday, 17 November 2025 - 20:59 WIB

Seruput Kopi Hadirkan Inspirasi, Filsafat Lahirnya Komunitas Guru Lauq Indonesia

Thursday, 30 October 2025 - 22:08 WIB

Indahnya Kebersamaan, Milad ke-7 FWMO Kapolres Lotim Ajak Wartawan Sinergi Menjaga Kondusifitas

Wednesday, 29 October 2025 - 14:03 WIB

Dukung Stabilitas Siskamtibmas, Laskar NTB Bangun Sinergi Bersama Pemerintah dan Aparat Keamanan

Thursday, 2 October 2025 - 05:35 WIB

Menengok Hukum Adat Untuk Menjaga Lingkungan

Monday, 22 September 2025 - 08:59 WIB

Dinilai Tidak Berakhlak, IDEAL dan Sejumlah Pemerhati Serukan Menteri Agama Copot Kepala Kemenag NTB

Berita Terbaru

TRANSLATE

You cannot copy content of this page