LOMBOK TIMUR – Semenjak diluncurkannya, program Makan Bergizi Gratis (MBG) oleh Pemerintah Pusat dari 6 Januari – Juni 2025, tercatat 1376 korban anak keracunan dari dari berbagai daerah se Nusantara akibat program MBG tersebut.
Hal serupa dialami Cici Widia Astuti, satu diantara sejumlah siswa dari SMK Karya Adi Husada, Kelurahan Rakam, Kecamatan Selong, Kabupaten Lombok Timur (Lotim) Provinsi NTB, yang diduga mengalami keracunan usai Makan Bergizi Gratis yang di distribusikan oleh MBG Dapur Ra.Kartini, Rakam di sekolahnya pada Selasa, 19 Agustus 2025.
Saat dikonfirmasi awak media di Ruang IGD Puskesmas Selong, Cici yang duduk di bangku SMK kelas III membeberkan kronologi kejadian. Dirinya, mengaku mengalami muntah, pusing dan diare usai menyantap menu makanan dari MBG, seperti: ayam goreng, sayur wortel, dan tahu.
Menurutnya, sumber keracunan diduga kuat dari ayam goreng yang beraroma tidak sedap dan aroma yang kurang sedap pula.
Sebelum kejadian kata Cici, dirinya tidak pernah menyantap makanan apapun selain makanan MBG tersebut. Ia pun mengaku tidak memiliki riwayat penyakit apapun. “Setelah saya menyantap makanan dari MBG di hari pertama saya merasa mual dan akhirnya muntah, dan beberapa kali buang air besar dari jam 3 dini hari hingga azan subuh.
“Hingga di hari kedua ini, tetap tidak mengalami perubahan. Sehingga, hari ini saya dibawa ke Puskesmas, termasuk beberapa temannya yang lain juga mengalami hal yang sama,” ucapnya, Rabu (20/8/2025).
Hal senada dikatakan tim medis Puskesmas Selong, Mustiadi membenarkan hal itu, dari hasil observasi pasien tersebut mengalami mual, muntah yang disertai diare. Sehingga, dilakukan perawatan intensif pada pasien.
Sementara, ahli gizi MBG, Dapur RA. Kartini Rakam, Arif Rahman Hakim, mengakui adanya sejumlah kendala teknis hingga keterlambatan pendistribusian.
“Saat ini, kami mengelola 3.302 porsi makan untuk siswa dan Posyandu,” beber Arif Rahman Hakim.
Yang menjadi pertanyaan awak media, lokasi MBG Dapur RA.Kartini dengan SMK Karya Adi Husada hanya berjarak sekitar 25 meter. Namun, dalam pendistribusian ke lokasi pukul 12 siang. Makanan yang harusnya dikonsumsi pagi hari disajikan dengan jeda yang cukup lama. Tentunya, sangat berpengaruh terhadap standar gizi dan kelayakan makanan tersebut terhadap kesehatan para siswa.
Pada kesempatan itu, ia menyampaikan permintaan maafnya dan akan mengevaluasi dengan lebih seksama terkait pengolahan maupun distribusi makanan.

“Dari peristiwa ini, kami akan berkomitmen untuk memperketat pengawasan baik dari sajian maupun kualitas makanan yang akan di distribusikan,” terang Arip pada wartawan.
Dengan maraknya korban keracunan atas program Makan Bergizi Gratis, di sejumlah wilayah se Nusantara. Sudah selayaknya semua elemen masyarakat turut serta memberikan atensi berupa pengawasan, terhadap Standar Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPT) maupun mutu kesehatan serta pendistribusian, Makan Bergizi Gratis, agar peristiwa yang sama tidak terulang kembali.






