MEDIA SUARA NURANI – Ketika satu anggota tubuh yang sakit, maka sakit pula anggota tubuh yang lain. Peribahasa tersebut adalah gambaran ikatan persaudaraan islam, prinsip itulah yang memantik perlawanan negara Iran kepada Zionis Israel dan sekutunya atas penindasan dan genosida terhadap Negeri Palestina serta kejahatan kemanusiaan terhadap Kiblat pertama umat muslim (Masjidil Aqsa). Karena setiap muslim adalah bersaudara, maka, tidak ada kata menyerah untuk menjaga kehormatan umat muslim hingga titik darah penghabisan.
Gema perlawanan ‘Jihad Fii Sabilillah’ menggema di seluruh penjuru Iran menyusul gugurnya pimpinan Garda Revolusi Iran, Ayatollah Ali Khamenei bersama anak, menantu dan cucunya dalam sebuah serangan udara Zionis Israel bersama sekutunya Amerika Serikat,(AS) yang mengguncang jantung ibu kota Teheran, pada 28 Pebruari 2026.
Kronologi Serangan dan Pengumuman Resmi
Pada 28 Februari 2026, rangkaian serangan udara besar dilaporkan menghantam sejumlah titik strategis di Iran, termasuk kawasan di Teheran yang menjadi lokasi kompleks tempat Khamenei berada. Operasi militer tersebut melibatkan kekuatan Amerika Serikat dan Israel.
Tak lama berselang, otoritas Iran mengumumkan secara resmi bahwa Khamenei wafat dalam insiden tersebut. Siaran media nasional menyebut sang pemimpin gugur saat menghadapi konfrontasi militer, sebuah narasi yang menempatkannya sebagai simbol keteguhan negara dalam situasi genting.
Berdasarkan informasi dari sejumlah sumber, pemimpin tertinggi Republik Islam tersebut meninggal dunia akibat operasi militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel. Atas kematian Ali Khamenei. Sehingga, Pemerintah Iran menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari sebagai penghormatan atas kepergian figur sentral yang telah memimpin Iran lebih dari tiga dekade.
Profil dan Jejak Kehidupan Ayatollah Ali Khamenei
Tokoh Sentral Iran tersebut Lahir pada 19 April 1939 di Mashhad, Khamenei dikenal sebagai ulama berpandangan konservatif yang memiliki pengaruh besar sejak meletusnya Revolusi Islam 1979. Pada masa itu, ia termasuk tokoh yang aktif menentang pemerintahan monarki Shah hingga akhirnya sistem kerajaan tumbang dan digantikan oleh Republik Islam berbasis kepemimpinan religius.
Selepas revolusi, kiprahnya meluas ke panggung politik nasional. Ia terpilih sebagai Presiden Iran pada periode 1981–1989, memimpin negara dalam fase transisi yang sarat tekanan internal maupun eksternal. Setelah wafatnya pendiri Republik Islam pada 1989, Khamenei dipercaya menduduki posisi Pemimpin Tertinggi. Jabatan dengan otoritas tertinggi yang membawahi kebijakan politik, militer, keagamaan, serta arah diplomasi luar negeri.
Otoritas dan Kontroversi Kepemimpinan
sebagai pemegang kendali tertinggi negara, Khamenei memainkan peran dominan dalam menentukan sikap Iran terhadap Negara Barat. Kebijakan luar negerinya dikenal tegas, khususnya dalam merespons dinamika hubungan dengan Washington dan Tel Aviv. Di tingkat regional, ia memperkuat jejaring aliansi strategis Iran di Timur Tengah.
Di sisi lain, kepemimpinannya juga diwarnai kritik terkait penanganan demonstrasi dan oposisi politik di dalam negeri. Pendekatan keamanan yang ketat kerap menjadi sorotan komunitas internasional, terutama ketika gelombang protes muncul di berbagai kota.
Dampak Politik dan Ketegangan Regional
Kepergian Khamenei menandai babak baru dalam perjalanan politik Iran. Selama lebih dari tiga puluh tahun, ia menjadi figur sentral dalam menentukan arah kebijakan strategis, termasuk isu program nuklir dan relasi dengan negara-negara Timur Tengah.
Peristiwa ini terjadi di tengah eskalasi ketegangan antara Iran dan kekuatan internasional, khususnya Amerika Serikat dan Israel. Para pengamat menilai, wafatnya pemimpin tertinggi tersebut berpotensi memicu perubahan signifikan dalam konfigurasi politik domestik Iran sekaligus mempengaruhi peta geopolitik kawasan.
Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) atau
Korps Garda Revolusi Islam Iran akan Menuntut Balas Kematian Ayatollah Ali Khamenei, pasca serangan udara yang dilancarkan Zionis Israel dan sekutunya Amerika.
Dalam keterangan Pers, sejumlah petinggi Iran dengan tegas mengatakan, serangan rudal balistiknya di pangkalan militer Amerika di Negara Timur Tengah, bukan ditujukan pada negara muslim. Akan tetapi, itu adalah peringatan keras, tidak ada tempat yang aman bagi Israel dan sekutunya Amerika Serikat di seluruh jazirah Arab.
“Serangan kami ditujukan pada pangkalan militer yang menampung aset AS, bukan agresi terhadap negara negara islam itu sendiri,” ucapnya lantang.
Di tengah pusaran geopolitik yang kian bergejolak, sikap sebuah bangsa kerap menjadi cermin keyakinan yang dipegang teguh oleh rakyatnya. Begitu pula dengan Iran, yang belakangan ini kembali menjadi sorotan dunia karena keteguhannya dalam memegang prinsip lembut terhadap sesama muslim, namun tegas terhadap bangsa bangsa yang memusuhi islam.
Dalam berbagai pernyataan resmi dan kebijakan politik luar negerinya, Iran menunjukkan garis sikap yang konsisten. Solidaritas terhadap negara-negara dan komunitas muslim terus ditegaskan melalui dukungan diplomatik maupun kemanusiaan.
Bagi sebagian kalangan, sikap tersebut dipandang sejalan dengan nilai yang termaktub dalam Firman Allah SWT yang tertuang dalam Surah Al-Ma’idah ayat 54 disebutkan bahwa: Allah SWT akan mendatangkan suatu kaum yang dicintai-Nya dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin dan tegas terhadap orang-orang kafir.
Ayat ini kerap dijadikan rujukan dalam memahami pentingnya keseimbangan antara kasih sayang dan ketegasan dalam membela keyakinan. Pendekatan Iran tidak semata-mata bernuansa ideologis, melainkan juga strategis. Ketegasan dalam diplomasi dipandang sebagai upaya menjaga kedaulatan dan harga diri bangsa di tengah tekanan global. Sementara itu, sikap empati terhadap sesama muslim menjadi bagian dari identitas politik yang telah lama dibangun negara tersebut.
Di tengah perdebatan pro dan kontra, sikap Iran menghadirkan diskursus tersendiri tentang bagaimana ajaran agama diterjemahkan dalam kebijakan kenegaraan dan perjuangan. Antara idealisme dan realitas politik, Iran memilih berdiri pada garis yang diyakininya menggabungkan kelembutan dalam persaudaraan dan ketegasan dalam menghadapi tantangan.
Ditengah konflik timur Tengah dan serbuan Zionis Israel dan sekutunya Amerika, Iran berdiri lantang mengibarkan panji panji islam ditengah ironi sejumlah negara islam justru memberikan ruang wilayahnya untuk dijadikan pangkalan militer untuk orang orang kafir yang memusuhi islam.
Sesungguhnya, setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatannya di hadapan Allah SWT pada hari pembalasan kelak. “Tetapi kamu pasti akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang telah kamu lakukan.” (QS. An-Nahl: 93).
Penulis: Redaksi Media Suara Nurani






