LOMBOK TIMUR – Wisuda bukanlah titik akhir dalam proses pembelajaran. Namun, itu adalah langkah awal dalam menghadapi dunia nyata dan penuh tantangan guna mengimplementasikan Tridharma Perguruan Tinggi.
Penjelasan itu disampaikan Rektor Institut Elkatarie Lombok Timur, Dr.Asbullah Muslim,M.Pd.I, saat membuka Wisuda Angkatan Ke II tahun akademik 2025/2026 di Grand Madani Hotel Mataram, Senin (29/12/2025).
Disampaikan Dr.Asbullah Muslim,M.Pd.I, lahirnya Institut Elkatari untuk mengkolaborasikan nilai nilai pendidikan religius dan nilai nilai budaya dan kearifan lokal. Khususnya, adat sasak yang mendominasi daerah yang dikenal dengan julukan Pulau Seribu Mesjid.

Ditegaskannya, bahwa budaya tidak bertentangan dengan nilai nilai agama, akan tetap mengintegrasikan budaya dan kearifan lokal.
Hal itu terlihat dari kurikulum kearifan lokal budaya sasak di setiap program studi. Bahkan, tranformasi itu pernah digelar dalam bentuk seminar kearifan lokal seperti kegiatan ‘Ngaji Budaya’ setiap bulan suci Ramadhan.
Salah satu wujud sinergi dan kolaborasi nilai religius dan budaya, sambung Asbullah, diantaranya membangun kerjasama dengan Majelis Adat Sasak Lombok Timur dalam pelaksanaan Kuliyah Kerja Nyata (KKN) nantinya akan berbasis budaya dan seni di beberapa lembaga adat yang ada.
“Kedepan kita akan adakan Magang dan Kuliyah Kerja Lapangan (Maktal) dengan bekerjasama dengan Majelis Adat Sasak yang berada di setiap Kabupaten/Kota,” ujarnya.
Menutup pidatonya, ia berharap para wisudawan Institut Elkatarie nantinya akan menjadi inspirasi banyak orang dan bisa memberikan sumbangsih dalam kemajuan Bumi Patuh Karya Lombok Timur.
Sementara, Gubernur NTB, Dr.H.Lalu Muhamad Iqbal, S.IP., M.Si., yang hadir pada acara tersebut mengapresiasi atas gagasan terbentuknya Institut Elkatari yang mempertemukan dua aspek keilmuan dasar, yakni agama dan budaya. Itu terefleksi dari para alumninya.
Pada kesempatan itu, Lalu Muhammad Iqbal menyampaikan salah satu kerumitan mempelajari sciences (ilmu pengetahuan) di Indonesia langsung mempelajari ilmu terapan. Semestinya, mempelajari ilmu dasar terlebih dahulu.
Ia pun membeberkan sejumlah ilmuwan islam yang hingga saat ini memiliki legacy atau warisan keilmuwan yang diakui oleh dunia meskipun telah berabad abad lamanya. Salah satunya Ibnu Sina, ilmuwan terkemuka umat muslim dalam bidang kedokteran, hingga saat ini dipergunakan oleh Scientist dunia dan ilmuan ilmuan islam terkemuka lainnya.
“Saya mengapresiasi gebrakan rektor institut elkatari, perguruan tinggi yang berbasis budaya dan inilah yang membedakannya dengan Perguruan Tinggi lainnya,” katanya disambut tepuk tangan dari para hadirin.
Lebih jauh disampaikan orang nomer satu di NTB tersebut, membeberkan ilmu pemasaran yang dinamakan diferensiasi (perbedaan).

“Jika produk dalam suatu market sama, dipastikan para alumni tidak memiliki tempat di mata masyarakat. Yang membuat wisudawan diterima di mata masyarakat adalah diferensiasi itu sendiri,” ucapnya memuji.
“Kita semua berharap, para alumnus Institut Elkatari akan menjadi generasi penerus yang akan merawat, menjaga dan melestarikan peradaban budaya Sasak di kemudian hari,” pungkasnya.
Meski seumur jagung, Institut Elkatari, dari angkatan pertama dan angkatan kedua, Institut Elkatari telah menelurkan enam ratusan alumni yang tersebar pada 7 program studi antara lain: prodi bahasa Inggris, bimbingan konseling, PGMI, Hukum Tata Negara, Hukum Pidana, Akuntansi Syariah, dan prodi Managemen Keuangan Syariah.






