Bahasa Sasak Menuju Ruang Digital, Sangkep Internasional I Dorong Korpus hingga AI

- Editor

Wednesday, 19 August 2026 - 19:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Majelis adat Sasak bersama berbagai unsur masyarakat dari sejumlah paer di NTB, dalam giat persiapan Kongres Bahasa Sasak

Foto: Majelis adat Sasak bersama berbagai unsur masyarakat dari sejumlah paer di NTB, dalam giat persiapan Kongres Bahasa Sasak

MATARAM — Bahasa bukan sekadar alat untuk bertutur, melainkan warisan yang menyimpan jati diri, ingatan, dan akar sebuah masyarakat. Kesadaran itulah yang menjadi semangat dalam persiapan Sangkep (Kongres) Internasional I Bahasa Sasak, yang terus dimatangkan Majelis Adat Sasak (MAS) bersama berbagai unsur masyarakat dari sejumlah paer di Nusa Tenggara Barat, di Kota Mataram, Rabu (19/8/2026).

Panitia menggelar koordinasi dan konsolidasi di Rembiga, guna memastikan kesiapan penyelenggaraan kongres yang dijadwalkan akan berlangsung pada 28–30 Oktober 2026. Sejumlah agenda dipersiapkan dalam acara tersebut, antara lain: persiapan kepanitiaan, agenda kegiatan, keterlibatan tokoh, akademisi, serta substansi yang akan menjadi pokok pembahasan dalam sangkep.

Ketua Panitia Kongres Internasional I Bahasa Sasak, Dr. Khairil Anwar, M.Pd., mengatakan konsolidasi dilakukan agar forum tersebut tidak berhenti sebagai ruang bertukar gagasan, tetapi mampu melahirkan keputusan dan program yang dapat dilaksanakan secara berkelanjutan.

“Kita ingin sangkep ini menghasilkan sesuatu yang nyata, bukan sekadar berdiskusi, tetapi melahirkan kesepakatan, rekomendasi, program prioritas, dan peta jalan bersama untuk bahasa dan sastra Sasak,” ujar akademisi yang akrab disapa Chae tersebut.

Pelibatan berbagai unsur masyarakat menjadi salah satu perhatian utama dalam persiapan kongres. Budayawan, akademisi, pakar, pemerhati bahasa dan budaya, tokoh adat, komunitas, pemerintah, sekolah, serta elemen masyarakat dari berbagai paer diharapkan memberikan perspektif yang beragam mengenai masa depan bahasa dan sastra Sasak.

Menurut Khairil, keberagaman pandangan diperlukan karena persoalan bahasa Sasak tidak hanya berkaitan dengan aspek kebahasaan, tetapi juga menyentuh pendidikan, kebudayaan, teknologi, kehidupan keluarga, hingga keberlanjutan identitas masyarakat Sasak.

Bahasa Sasak memiliki posisi penting sebagai bagian dari identitas budaya sekaligus perekat sosial masyarakat Sasak. Di tengah perubahan pola komunikasi dan derasnya perkembangan global, keberadaan bahasa daerah menghadapi tantangan yang semakin kompleks, terutama dalam penggunaannya oleh generasi muda.

Baca Juga :  Revitalisasi Sekolah Jadi Pelita, Lombok Timur Smart Menyulam Generasi Cendekia

Karena itu, pelestarian bahasa Sasak dinilai tidak cukup hanya dengan mempertahankan keberadaannya. Bahasa tersebut perlu terus digunakan, diwariskan, dikembangkan, dan ditempatkan dalam konteks kehidupan generasi masa kini agar tetap relevan bagi generasi mendatang.

Dalam persiapan substansi kongres, panitia merumuskan empat fokus utama, yakni digitalisasi; pembinaan dan pengajaran; pelestarian dan pelindungan; serta pengembangan tata bahasa, aksara, sastra, dan tata istilah.

Pada bidang digitalisasi, pembahasan diarahkan pada upaya mendokumentasikan sekaligus memperluas penggunaan bahasa dan sastra Sasak melalui teknologi. Sejumlah agenda yang disiapkan meliputi digitalisasi manuskrip, naskah, kamus, cerita rakyat, karya sastra, pengembangan korpus digital, platform pembelajaran, dokumentasi audio-visual, hingga pemanfaatan kecerdasan artifisial atau AI.

Sementara itu, aspek pembinaan dan pengajaran diarahkan untuk memperkuat pembelajaran bahasa Sasak di sekolah, menyediakan bahan ajar, meningkatkan kompetensi guru, mendorong penggunaan bahasa Sasak dalam keluarga, serta menghidupkan pembinaan berbasis komunitas.

Gagasan “Gerakan Sasak di Sekolah” dan “Kelas Bahasa Sasak untuk Generasi Muda” menjadi bagian dari program yang dapat dikembangkan sebagai sarana memperkuat pewarisan bahasa, baik melalui pendidikan formal maupun pembelajaran di tengah masyarakat.

“Pembinaan tidak hanya menyasar siswa, tetapi juga guru, keluarga, komunitas, budayawan, tokoh masyarakat, dan masyarakat secara luas,” kata Khairil, yang juga Sekretaris Jenderal Majelis Adat Sasak.

Pada sisi pelestarian dan pelindungan, panitia mencermati sejumlah tantangan, antara lain perubahan pola komunikasi, semakin kuatnya dominasi bahasa Indonesia dan bahasa asing, serta berkurangnya penggunaan bahasa Sasak di kalangan generasi muda.

Baca Juga :  Jurnalis Pelajar SMAN 1 Labuhan Haji Soroti Pergantian Kurikulum Terhadap Minat Belajar Siswa

Keterbatasan jumlah penutur dan pewaris sejumlah ragam bahasa serta tradisi sastra Sasak juga menjadi perhatian. Karena itu, upaya pelestarian akan diarahkan pada pemetaan kondisi bahasa, pendataan penutur, dokumentasi, serta revitalisasi berbasis komunitas.

Penguatan peran keluarga dan lembaga adat serta penyusunan kebijakan pelindungan juga dipandang penting. Dengan pendekatan tersebut, pelestarian bahasa Sasak diharapkan menjadi gerakan bersama dan tidak bergantung pada satu lembaga atau kelompok tertentu.

Fokus berikutnya berkaitan dengan pengembangan tata bahasa, aksara, sastra, dan tata istilah. Agenda ini diarahkan untuk memperkuat fondasi ilmiah bahasa Sasak sehingga tersedia rujukan yang memadai sekaligus mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan masyarakat.

Keempat fokus tersebut dirancang sebagai satu kesatuan yang saling menguatkan. Pengembangan memperkokoh fondasi bahasa, pelindungan menjaga keberadaan penutur dan warisan budaya, pembinaan memastikan proses pewarisan antargenerasi, sedangkan digitalisasi membuka ruang baru bagi bahasa Sasak untuk hadir di tengah perkembangan teknologi.

Dengan demikian, Sangkep Internasional I Bahasa Sasak ditargetkan menghasilkan keluaran konkret, bukan sekadar rekomendasi normatif. Sejumlah hasil yang diproyeksikan antara lain peta jalan digitalisasi, model pembinaan dan pengajaran, peta jalan pelestarian, serta rekomendasi pengembangan bahasa dan sastra Sasak.

Konsolidasi yang melibatkan berbagai unsur masyarakat dari sejumlah paer menjadi langkah awal untuk menyatukan visi tersebut. Harapannya, kongres yang digelar pada Oktober mendatang mampu melahirkan kesepakatan bersama agar bahasa Sasak tidak hanya dikenang sebagai warisan leluhur, tetapi tetap hidup dalam percakapan, pendidikan, keluarga, karya sastra, dan ruang digital.

Berita Terkait

Belajar Keselamatan Sejak Dini, Siswa TK Islam Citra Sawing Antusias Ikuti Edukasi Damkar Lombok Timur
Empat Talenta Seni Universitas Hamzanwadi Harumkan Nama NTB, Siap Tampil di PEKSIMINAS
Menyongsong Semangat Perubahan, Jurnalis Kampus Siap Hadapi Era Digital
Inilah Sosok Hanapi, Sang Doktor yang Mengawali Karirnya dari Kuli Tinta
Revitalisasi Sekolah Jadi Pelita, Lombok Timur Smart Menyulam Generasi Cendekia
Sentuhan Empati Kadis Dikbud di Ruang Perawatan, Meninjau Langsung Siswa Korban Pohon Tumbang
Merawat Ilmu Menjaga Budaya, Wisuda Institut Elkatari Satukan Religi dan Kearifan Lokal
Ketika Gelar Menjadi Do’a, Yudisium Institut Elkatarie Cikal Bakal Kaum Religius Intelektual
Berita ini 19 kali dibaca

Berita Terkait

Wednesday, 19 August 2026 - 19:31 WIB

Bahasa Sasak Menuju Ruang Digital, Sangkep Internasional I Dorong Korpus hingga AI

Wednesday, 22 July 2026 - 00:33 WIB

Belajar Keselamatan Sejak Dini, Siswa TK Islam Citra Sawing Antusias Ikuti Edukasi Damkar Lombok Timur

Friday, 17 July 2026 - 12:56 WIB

Empat Talenta Seni Universitas Hamzanwadi Harumkan Nama NTB, Siap Tampil di PEKSIMINAS

Thursday, 23 April 2026 - 09:08 WIB

Menyongsong Semangat Perubahan, Jurnalis Kampus Siap Hadapi Era Digital

Monday, 9 February 2026 - 23:57 WIB

Inilah Sosok Hanapi, Sang Doktor yang Mengawali Karirnya dari Kuli Tinta

Berita Terbaru

TRANSLATE

You cannot copy content of this page